{"id":1019,"date":"2026-05-14T18:43:51","date_gmt":"2026-05-14T18:43:51","guid":{"rendered":"https:\/\/cn-seo.org\/?p=1019"},"modified":"2026-05-14T18:43:51","modified_gmt":"2026-05-14T18:43:51","slug":"indonesia-mungkin-segera-kehilangan-gletser-terakhirnya-keadaan-planet-ini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cn-seo.org\/?p=1019","title":{"rendered":"Indonesia Mungkin Segera Kehilangan Gletser Terakhirnya \u2013 Keadaan Planet Ini"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>Gletser tropis terakhir di Asia dapat ditemukan di dekat Puncak Jaya, Papua, puncak tertinggi di Asia Tenggara. Namun kecil kemungkinannya hal tersebut akan bertahan hingga akhir dekade ini. Selama 44 tahun terakhir, puncaknya telah menghilang <a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/abs\/pii\/S0165232X26000133\">97%<\/a> es dan empat gletsernya. Dua gletser yang tersisa, gletser Carstensz dan East Northwall Firn, diperkirakan akan hilang pada tahun 2030, sehingga menambah Indonesia (bersama Venezuela dan Slovenia) ke dalam daftar negara yang telah kehilangan seluruh gletsernya. <\/p>\n<figure class=\"wp-block-image size-medium\"><picture class=\"sotp-avif-images\"><source srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Puncak-Jaya-325x217.avif 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Puncak-Jaya-650x433.avif 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Puncak-Jaya-768x512.avif 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Puncak-Jaya.avif 1280w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\" type=\"image\/avif\"\/><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"650\" height=\"433\" src=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Puncak-Jaya-650x433.jpg\" alt=\"Pemandangan udara sisa es gletser di Puncak Jaya, Papua.\" class=\"wp-image-126255 sotp-avif-images\" srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Puncak-Jaya-650x433.jpg 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Puncak-Jaya-768x512.jpg 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Puncak-Jaya-325x217.jpg 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Puncak-Jaya.jpg 1280w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\"\/><\/picture><figcaption class=\"wp-element-caption\">Pemandangan udara sisa es gletser di Puncak Jaya, Papua. (Kredit: <a href=\"https:\/\/www.bmkg.go.id\/berita\/utama\/bmkg-lakukan-monitoring-luasan-gletser-jelang-kepunahan-salju-abadi-pegunungan-jayawijaya\">BMKG<\/a>)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Meningkatnya suhu global secara langsung berkontribusi terhadap mencairnya gletser global. Untuk gletser di Indonesia, hal ini ditandai dengan <a href=\"https:\/\/www.pnas.org\/doi\/10.1073\/pnas.1822037116\">tahun El Nino<\/a>. Osilasi Selatan El Ni\u00f1o (<a href=\"https:\/\/www.climate.gov\/news-features\/blogs\/enso\/what-el-nino-southern-oscillation-enso-nutshell\">ENSO<\/a>) adalah fenomena iklim global yang ditandai dengan pola cuaca yang bergantian antara kondisi La Ni\u00f1a dan El Ni\u00f1o yang mempengaruhi setiap wilayah di planet ini dengan cara yang berbeda. Di Indonesia, kondisi El Ni\u00f1o telah meningkatkan pencairan gletser secara signifikan.<\/p>\n<p>\u201cUntuk Papua, cuaca menjadi kering dan panas saat El Ni\u00f1o, yang berarti lebih sedikit salju di dataran tinggi dan lebih banyak pencairan. Keduanya bisa menjadi lonceng kematian, terutama untuk gletser kecil,\u201d kata dia. <a href=\"https:\/\/news.climate.columbia.edu\/2026\/05\/04\/geologist-mike-kaplan-named-2026-guggenheim-fellow\/\">Mike Kaplan<\/a>seorang ahli geologi di Lamont-Doherty Earth Observatory, yang merupakan bagian dari Columbia School of Climate. Ia mempelajari sejarah gletser, iklim, dan lanskap masa lalu. Selama peristiwa El Ni\u00f1o baru-baru ini antara tahun 2015 dan 2016, gletser di Indonesia terkena dampak besar.<\/p>\n<p>\u201cPemanasan menyebabkan titik beku meningkat, yang berarti lebih banyak curah hujan yang turun sebagai hujan dibandingkan salju, sehingga mempercepat pencairan daripada memberi nutrisi pada gletser,\u201d kata Donaldi Permana, peneliti iklim yang mengepalai pemantauan gletser di BMKG, badan meteorologi, klimatologi, dan geofisika Indonesia. Dalam sebuah wawancara dengan GlacierHub, Permana menjelaskan bagaimana laju penipisan vertikal meningkat dari sekitar 1,0 juta\/tahun menjadi 5,3 juta selama peristiwa El Ni\u00f1o tahun 2015-16\u2014peningkatan hampir lima kali lipat.<\/p>\n<p>Permana dan timnya menggunakan inti es yang ditemukan pada tahun 2010 untuk memeriksa variabilitas iklim di wilayah tersebut selama setengah abad terakhir. Inti es sepanjang 32 meter mengungkapkan efek ENSO selama periode ini. Tim menyimpulkan bahwa tren linier positif yang signifikan dalam penurunan es diselingi oleh El Ni\u00f1o dan mereka membuat model hilangnya es di masa depan berdasarkan tren ini. <\/p>\n<figure class=\"wp-block-image size-medium\"><picture class=\"sotp-avif-images\"><source srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Puncak-decline-325x146.avif 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Puncak-decline-650x292.avif 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Puncak-decline-768x345.avif 768w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\" type=\"image\/avif\"\/><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"650\" height=\"292\" src=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Puncak-decline-650x292.jpg\" alt=\"Gambar yang menunjukkan penurunan gletser Puncak antara tahun 2010 dan 2022.\" class=\"wp-image-126262 sotp-avif-images\" srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Puncak-decline-650x292.jpg 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Puncak-decline-768x345.jpg 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Puncak-decline-325x146.jpg 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Puncak-decline.jpg 800w\" sizes=\"auto, (max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\"\/><\/picture><figcaption class=\"wp-element-caption\">Peak Glacier surut antara tahun 2010 dan 2022. (Kredit: <a href=\"https:\/\/www.bmkg.go.id\/berita\/utama\/bmkg-lakukan-monitoring-luasan-gletser-jelang-kepunahan-salju-abadi-pegunungan-jayawijaya\" data-type=\"link\" data-id=\"https:\/\/www.bmkg.go.id\/berita\/utama\/bmkg-lakukan-monitoring-luasan-gletser-jelang-kepunahan-salju-abadi-pegunungan-jayawijaya\">BMKG<\/a>)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Pemodelan dan observasi terkini menunjukkan adanya penurunan terminal. Luasnya berkurang dari sekitar 19,3 km\u00b2 pada tahun 1850 menjadi hanya sekitar 0,16-0,23 km\u00b2 pada tahun 2022-2024, kata Permana. Itu berarti gletser tersebut menyusut dari ukuran sekitar 3.500 lapangan sepak bola menjadi hanya 40 lapangan sepak bola. Dia memperingatkan bahwa beberapa model menunjukkan bahwa gletser tersebut bisa hilang dalam tahun depan. \u201cDengan meningkatnya kemungkinan El Ni\u00f1o kuat pada paruh kedua tahun 2026, hilangnya gletser di Indonesia mungkin terjadi pada tahun 2026-2027.\u201d Nasib gletser ini mungkin sudah ditentukan. <\/p>\n<figure class=\"wp-block-pullquote\">\n<blockquote>\n<p>&#8220;[Tropical glaciers] dapat dianggap sebagai burung kenari di tambang batu bara\u2014terutama bagi negara-negara yang awalnya memiliki sedikit es glasial.&#8221;<\/p>\n<p><cite>-Mike Kaplan<\/cite><\/p><\/blockquote>\n<\/figure>\n<p>\u201cBahkan jika saat ini kita secara ajaib dapat menghentikan peningkatan gas rumah kaca, masih terdapat penundaan dalam sistem iklim,\u201d kata Kaplan. Suhu akan terus meningkat selama beberapa tahun bahkan setelah tingkat gas rumah kaca stabil karena planet memerlukan waktu untuk mencapai keseimbangan. \u201cDalam skenario hipotetis seperti ini, pemanasan mungkin masih akan berlanjut hingga tahun 2030&#8230;. Bahkan dalam kondisi saat ini\u2014bahkan jika kita menstabilkan emisi CO2\u2014kemungkinan akan terlalu panas dan kering untuk membuat gletser ini tetap ada, terutama jika terjadi tahun-tahun El Ni\u00f1o yang kuat.\u201d<\/p>\n<p>Hilangnya gletser ini tidak hanya menimbulkan masalah lingkungan, namun juga kerugian budaya yang signifikan. Bagi sebagian besar masyarakat adat Papua, gletser mempunyai nilai sakral. Dalam wawancara dengan GlacierHub, Wewin Wira Cornelis Wahid, lulusan MS Manajemen Keberlanjutan Indonesia (ditawarkan oleh Columbia School of Professional Studies dan Columbia School of Climate), membahas bagaimana kerugian ini akan berdampak pada masyarakat di negaranya. <\/p>\n<p>\u201cPuncak dianggap sebagai ruang sakral tempat tinggal nenek moyang, menjadikan gletser tidak hanya sebagai ciri fisik tetapi bagian inti dari identitas spiritual. Oleh karena itu, hilangnya gletser tidak hanya mewakili perubahan lingkungan tetapi juga erosi warisan budaya,\u201d kata Wahid. \u201cDulu dikenal secara lokal sebagai \u2018salju abadi\u2019 atau salju permanen, hilangnya salju dengan cepat mencerminkan betapa sesuatu yang tadinya dianggap permanen kini sangat rentan terhadap perubahan iklim.\u201d<\/p>\n<p>Gletser tropis termasuk yang pertama menghilang karena ukurannya yang lebih kecil <a href=\"https:\/\/news.climate.columbia.edu\/2025\/01\/09\/new-study-demonstrates-unprecedented-glacial-retreat-in-the-andes\/\">ukuran<\/a>. Musim dingin yang lebih panjang dan lebih dingin di wilayah lintang yang lebih tinggi sering kali membuat gletser tetap berada di sana, sehingga memperlambat penyusutan. Namun, gletser tropis berfungsi sebagai peringatan bagi gletser di seluruh dunia. \u201cGletser di sini dapat dianggap sebagai burung kenari di tambang batu bara\u2014terutama bagi negara-negara yang awalnya memiliki sedikit es glasial,\u201d kata Kaplan. <\/p>\n<p>Permana dan timnya memperingatkan bahwa puncak ini adalah &#8220;tanda peringatan&#8221; bagi seluruh dunia, yang bertindak sebagai pertanda nasib yang menanti gletser dataran tinggi lainnya di seluruh dunia. Mungkin hanya masalah waktu saja sebelum gletser lain mengalami nasib serupa, dan masyarakat bisa terikat dengan gletser tersebut <a href=\"https:\/\/news.climate.columbia.edu\/2026\/04\/23\/indigenous-herders-and-perus-melting-glaciers-a-conversation-with-anthropologist-allison-caine\/\">rasakan efeknya<\/a> tentang kehilangan mereka.<\/p>\n<\/div>\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gletser tropis terakhir di Asia dapat ditemukan di dekat Puncak Jaya, Papua, puncak tertinggi di Asia Tenggara. Namun kecil kemungkinannya hal tersebut akan bertahan hingga akhir dekade ini. Selama 44 tahun terakhir, puncaknya telah menghilang 97% es dan empat gletsernya. Dua gletser yang tersisa, gletser Carstensz dan East Northwall Firn, diperkirakan akan hilang pada tahun&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1020,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-1019","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1019","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1019"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1019\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1020"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1019"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1019"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1019"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}