{"id":1066,"date":"2026-06-22T15:43:33","date_gmt":"2026-06-22T15:43:33","guid":{"rendered":"https:\/\/cn-seo.org\/?p=1066"},"modified":"2026-06-22T15:43:33","modified_gmt":"2026-06-22T15:43:33","slug":"pilih-kertas-kondisi-planet","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cn-seo.org\/?p=1066","title":{"rendered":"Pilih Kertas \u2013 Kondisi Planet"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setiap bulan, para peneliti dari Lamont-Doherty Earth Observatory dan seluruh Columbia Climate School menerbitkan karya yang mempertajam pemahaman kita tentang planet ini.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bulan ini kami menulis tentang <a href=\"https:\/\/news.climate.columbia.edu\/2026\/05\/26\/ancient-dust-points-to-retreat-of-west-antarctic-ice-sheet-during-last-warm-period\/\">bukti baru dari inti es Antartika<\/a> menunjukkan bahwa Lapisan Es Ross dan Lapisan Es Antartika Barat jauh lebih kecil selama periode pemanasan besar terakhir di planet ini; solusi jangka panjang <a href=\"https:\/\/news.climate.columbia.edu\/2026\/05\/12\/a-new-study-explains-how-carbon-dioxide-cools-the-upper-atmosphere-and-warms-earth-below\/\">teka-teki CO2 di atmosfer<\/a>; dan sebuah <a href=\"https:\/\/news.climate.columbia.edu\/2026\/05\/06\/near-miss-tsunami-in-alaskan-cruise-area-offers-lessons-for-steep-landscapes-near-glaciers\/\">Tsunami &#8220;nyaris meleset&#8221; di Alaska<\/a> itu adalah yang tertinggi kedua yang pernah tercatat.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berikut adalah studi tambahan yang dilakukan peneliti kami yang perlu diperhatikan.<\/p>\n<h2 class=\"wp-block-heading has-text-align-left\" style=\"padding-top:var(--wp--preset--spacing--30);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--30)\">Debu Gurun Mungkin Menumpulkan Beberapa Keuntungan Kesehatan dari Udara yang Lebih Bersih di Afrika<\/h2>\n<figure class=\"wp-block-image alignright size-medium\"><picture class=\"sotp-avif-images\"><source srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/iStock-1358166381-325x244.avif 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/iStock-1358166381-650x488.avif 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/iStock-1358166381-768x576.avif 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/iStock-1358166381-1300x975.avif 1300w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/iStock-1358166381.avif 2000w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\" type=\"image\/avif\"\/><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"650\" height=\"488\" src=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/iStock-1358166381-650x488.jpg\" alt=\"Pemandangan mobil yang kabur dan kekuningan di jalan raya, saat badai pasir. \" class=\"wp-image-126818 sotp-avif-images\" srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/iStock-1358166381-650x488.jpg 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/iStock-1358166381-1300x975.jpg 1300w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/iStock-1358166381-400x300.jpg 400w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/iStock-1358166381-768x576.jpg 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/iStock-1358166381-200x150.jpg 200w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/iStock-1358166381-325x244.jpg 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/iStock-1358166381-800x600.jpg 800w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/iStock-1358166381.jpg 2000w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\"\/><\/picture><figcaption class=\"wp-element-caption\">Badai pasir di Giza, Mesir. Kredit: Penjinak Soliman<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengurangi polusi jelaga dan asap akibat ulah manusia dapat menyelamatkan banyak nyawa di Afrika, menurut sebuah studi baru yang dilakukan oleh para peneliti dan rekan Lamont. Dengan menggunakan beberapa model sistem Bumi yang berbeda, tim menemukan hal itu <a href=\"https:\/\/agupubs.onlinelibrary.wiley.com\/doi\/full\/10.1029\/2025JD046135\">pengurangan emisi partikulat halus secara global<\/a> dapat mencegah sekitar 96.000 kematian dini setiap tahunnya di Afrika pada tahun 2050; pemotongan di Afrika saja dapat mencegah sekitar 84.000.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cManfaatnya tidak terjamin di semua tempat, karena perubahan pola debu alami, yang didorong oleh iklim, dapat membatalkan beberapa perbaikan di tempat-tempat di mana debu sudah menjadi bagian besar dari udara yang dihirup manusia,\u201d kata penulis pertama Joe Adabouk Amooli, seorang mahasiswa pascasarjana di Departemen Ilmu Bumi dan Lingkungan Kolumbia.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Mengapa ini penting: <\/strong>Partikel kecil di udara adalah salah satu bentuk polusi paling berbahaya di dunia. Di Afrika, permasalahannya menjadi lebih rumit karena udara kotor tidak hanya berasal dari mobil, industri, masakan rumah, dan kebakaran, namun juga dari debu gurun. Artinya, risiko kesehatan di masa depan akan bergantung pada kebijakan polusi dan bagaimana perubahan iklim mengubah badai angin, hujan, dan debu.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penulis lain yang terkait dengan Kolombia: <a href=\"https:\/\/people.climate.columbia.edu\/users\/profile\/joe-amooli\">Joe Adabouk Amooli,<\/a> Yanda Zhang dan <a href=\"https:\/\/www.ldeo.columbia.edu\/~danielmw\/\">Daniel M. Westervelt<\/a>Observatorium Bumi Lamont-Doherty; <a href=\"https:\/\/eesc.columbia.edu\/content\/ron-l-miller\">Ron L.Miller<\/a> Dan <a href=\"https:\/\/people.climate.columbia.edu\/users\/profile\/kostas-tsigaridis\">Kostas Tsigaridis,<\/a> Pusat Penelitian Sistem Iklim.<\/p>\n<h2 class=\"wp-block-heading has-text-align-left\" style=\"margin-top:var(--wp--preset--spacing--30);margin-bottom:var(--wp--preset--spacing--30)\">Berapa banyak karbon yang terseret <br \/>ke dalam bumi?<\/h2>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di zona subduksi, sedimen dasar laut yang membawa sisa-sisa biota laut kaya karbon tenggelam ke dalam mantel bumi. Sebagian dari karbon ini mungkin muncul melalui letusan gunung berapi, dan sebagian lagi mungkin terus tenggelam ke dalam mantel yang lebih dalam dan berubah menjadi berlian. Ahli geokimia Terry Plank dan ahli geofisika kelautan Alberto Malinverno bertemu selama lebih dari satu dekade di kantor mereka di Lamont untuk menghitung <a href=\"https:\/\/agupubs.onlinelibrary.wiley.com\/doi\/full\/10.1029\/2025GC012824\">perkiraan paling rinci tentang karbon sedimen yang memasuki palung dunia<\/a>. Studi mereka menemukan bahwa fluks karbon sedimen global mungkin kurang dari setengah perkiraan sebelumnya, dan penghilangan karbon sangat bervariasi dari satu margin subduksi ke margin subduksi lainnya.<\/p>\n<figure class=\"wp-block-image alignright size-medium\"><picture class=\"sotp-avif-images\"><source srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Screenshot-2026-06-09-at-11.34.55-AM-325x155.avif 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Screenshot-2026-06-09-at-11.34.55-AM-650x311.avif 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Screenshot-2026-06-09-at-11.34.55-AM-768x367.avif 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Screenshot-2026-06-09-at-11.34.55-AM.avif 943w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\" type=\"image\/avif\"\/><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"650\" height=\"311\" src=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Screenshot-2026-06-09-at-11.34.55-AM-650x311.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-126736 sotp-avif-images\" srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Screenshot-2026-06-09-at-11.34.55-AM-650x311.png 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Screenshot-2026-06-09-at-11.34.55-AM-768x367.png 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Screenshot-2026-06-09-at-11.34.55-AM-325x155.png 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Screenshot-2026-06-09-at-11.34.55-AM.png 943w\" sizes=\"auto, (max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\"\/><\/picture><figcaption class=\"wp-element-caption\">Kredit: T. Plank dan A. Malinverno<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cZona subduksi adalah salah satu cara utama bumi mendaur ulang karbon sepanjang waktu geologis,\u201d kata Plank. \u201cYang mengejutkan kami adalah betapa tidak meratanya daur ulang dari satu wilayah ke wilayah lainnya, dan betapa jelas sedimen yang masuk dapat meninggalkan jejak kimiawi pada gas vulkanik yang keluar.\u201d<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Mengapa ini penting: <\/strong>Karbon yang bergerak melalui zona subduksi adalah bagian kecil dari siklus karbon jangka pendek, namun selama jutaan tahun hal ini membantu mengatur keseimbangan karbon antara permukaan bumi, atmosfer, dan bagian dalam bumi. Studi tersebut juga menunjukkan bahwa ciri isotop karbon dari gas vulkanik dapat mencerminkan sedimen daur ulang di bawah gunung berapi di dekatnya, sehingga memberikan para ilmuwan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana karbon permukaan bergerak melalui interior bumi.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Penulis yang berafiliasi dengan Columbia:<\/strong> <a href=\"https:\/\/lamont.columbia.edu\/directory\/terry-plank\">Terry Papan<\/a> Dan <a href=\"https:\/\/lamont.columbia.edu\/directory\/alberto-malinverno\">Alberto Malinverno<\/a>Observatorium Bumi Lamont-Doherty.<\/p>\n<h2 class=\"wp-block-heading has-text-align-left\">Misteri pendinginan di Pasifik mungkin lebih sulit dipecahkan daripada yang terlihat<\/h2>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selama beberapa dekade, suhu di wilayah tropis Pasifik bagian timur tidak mengalami pemanasan seperti yang digambarkan oleh sebagian besar model iklim. Faktanya, sebidang kecil air di permukaan yang dikenal sebagai lidah dingin Pasifik telah mendingin, sama seperti sebagian besar wilayah lain di planet ini yang juga ikut menghangat. Sebuah studi baru yang dilakukan oleh ilmuwan iklim Lamont meneliti kumpulan data kelautan yang banyak digunakan yang menggabungkan observasi dengan keluaran model. <a href=\"https:\/\/journals.ametsoc.org\/view\/journals\/clim\/39\/12\/JCLI-D-25-0356.1.xml\">Mereka menemukan kesepakatan yang jelas dengan pendinginan yang diamati<\/a> mungkin sangat bergantung pada koreksi tambahan, dibandingkan representasi model fisika laut itu sendiri.<\/p>\n<figure class=\"wp-block-image size-medium\"><picture class=\"sotp-avif-images\"><source srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Screenshot-2026-06-09-at-11.50.28-AM-325x109.avif 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Screenshot-2026-06-09-at-11.50.28-AM-650x217.avif 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Screenshot-2026-06-09-at-11.50.28-AM-768x257.avif 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Screenshot-2026-06-09-at-11.50.28-AM.avif 963w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\" type=\"image\/avif\"\/><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"650\" height=\"217\" src=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Screenshot-2026-06-09-at-11.50.28-AM-650x217.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-126738 sotp-avif-images\" srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Screenshot-2026-06-09-at-11.50.28-AM-650x217.png 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Screenshot-2026-06-09-at-11.50.28-AM-768x257.png 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Screenshot-2026-06-09-at-11.50.28-AM-325x109.png 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Screenshot-2026-06-09-at-11.50.28-AM.png 963w\" sizes=\"auto, (max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\"\/><\/picture><figcaption class=\"wp-element-caption\">Kredit: Feng dkk. Jurnal Iklim, 2026<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cLidah dingin di Pasifik timur adalah salah satu tempat di mana observasi dan model iklim masih tidak sinkron,\u201d kata Feng Jiang, ilmuwan penelitian pascadoktoral Lamont. \u201cStudi kami menunjukkan bahwa bahkan data analisis ulang harus ditangani dengan hati-hati. Mereka mungkin mereproduksi pendinginan, namun tidak harus dengan menangkap proses fisik yang menyebabkannya.\u201d<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Mengapa ini penting: <\/strong>Pasifik tropis membantu membentuk cuaca dan iklim di luar wilayah lautan, memengaruhi curah hujan, kekeringan, perilaku El Ni\u00f1o, dan perkiraan pemanasan di masa depan. Jika model dan analisis ulang mendapatkan pola permukaan yang benar untuk alasan yang salah, para ilmuwan masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan sebelum mereka dapat mengetahui dengan yakin mengapa lidah yang dingin menjadi dingin, atau apa yang akan terjadi selanjutnya.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penulis yang berafiliasi dengan Columbia: <a href=\"https:\/\/lamont.columbia.edu\/directory\/feng-jiang\">Feng Jiang<\/a>, <a href=\"https:\/\/lamont.columbia.edu\/directory\/richard-seager\">Richard Seager <\/a>Dan <a href=\"https:\/\/lamont.columbia.edu\/directory\/mark-cane\">Mark A. Tebu<\/a>Observatorium Bumi Lamont-Doherty.<\/p>\n<h2 class=\"wp-block-heading has-text-align-left\">Makalah Baru Lainnya<\/h2>\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\"><strong>Bagaimana perubahan permukaan laut di masa depan dapat membentuk kembali garis pantai Greenland<\/strong><br \/><a href=\"https:\/\/www.pnas.org\/doi\/10.1073\/pnas.2528615123\">Implikasi perubahan permukaan laut di Greenland di masa depan berdasarkan pengetahuan masyarakat, pemetaan pesisir, dan model penyesuaian isostatik gletser<\/a><\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Apa yang bisa diceritakan oleh busur Aleutian kepada kita tentang bagaimana kerak benua terbentuk<\/strong><br \/><a href=\"https:\/\/agupubs.onlinelibrary.wiley.com\/doi\/10.1029\/2025JB033339\">Struktur seismik sepanjang Segmen Busur Andreanof Aleutian dan implikasinya terhadap pembentukan kerak benua<\/a>; berita <a href=\"https:\/\/eos.org\/editor-highlights\/a-snapshot-of-continental-crust-in-the-making\">Di Sini<\/a>.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Membaca sejarah Samudra Arktik melalui molekul lemak mikroba purba<\/strong><br \/><a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S0016703726002449\"><span style=\"text-decoration: underline;\">Menuju pemahaman distribusi biomarker lipid purba (GDGT) di sedimen Samudera Arktik tengah<\/span><\/a><\/p>\n<\/div>\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setiap bulan, para peneliti dari Lamont-Doherty Earth Observatory dan seluruh Columbia Climate School menerbitkan karya yang mempertajam pemahaman kita tentang planet ini. Bulan ini kami menulis tentang bukti baru dari inti es Antartika menunjukkan bahwa Lapisan Es Ross dan Lapisan Es Antartika Barat jauh lebih kecil selama periode pemanasan besar terakhir di planet ini; solusi&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1067,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-1066","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1066","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1066"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1066\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1067"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1066"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1066"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1066"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}