{"id":321,"date":"2024-08-06T17:12:27","date_gmt":"2024-08-06T17:12:27","guid":{"rendered":"https:\/\/cn-seo.org\/?p=321"},"modified":"2024-08-06T17:12:27","modified_gmt":"2024-08-06T17:12:27","slug":"tumbuhan-purba-potongan-serangga-mengonfirmasi-mencairnya-greenland-di-masa-lalu-geologi-terkini-keadaan-planet-ini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cn-seo.org\/?p=321","title":{"rendered":"Tumbuhan Purba, Potongan Serangga Mengonfirmasi Mencairnya Greenland di Masa Lalu Geologi Terkini &#8211; Keadaan Planet Ini"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>Kisah Greenland semakin hijau\u2014dan menakutkan.<\/p>\n<p>A <a href=\"https:\/\/dx.doi.org\/10.1073\/pnas.2407465121\">studi baru<\/a><strong> <\/strong>memberikan bukti langsung pertama bahwa bagian tengah\u2014bukan hanya tepian\u2014lapisan es Greenland telah mencair pada masa lalu secara geologis, dan bahwa pulau yang kini tertutup es ini merupakan rumah bagi lanskap tundra yang hidup.<\/p>\n<p>Sebuah tim ilmuwan memeriksa ulang beberapa inci sedimen dari dasar inti es sedalam dua mil yang diekstraksi di Greenland tengah pada tahun 1993, dan disimpan selama 30 tahun di fasilitas penyimpanan Colorado.  Mereka menemukan tanah yang mengandung kayu willow, bagian serangga, jamur dan biji poppy dalam kondisi murni.<\/p>\n<p>\u201cFosil ini indah sekali,\u201d kata <a href=\"https:\/\/www.uvm.edu\/~pbierman\/\">Paul Bierman<\/a>seorang ilmuwan di Universitas Vermont yang memimpin studi baru dengan mahasiswa pascasarjana UVM <a href=\"https:\/\/www.uvm.edu\/cosmolab\/people\/mastro\/mastro.html\">Halley Mastro<\/a> dan sembilan peneliti lainnya.  Kabar buruknya: implikasinya adalah perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia dapat kembali mencairkan lapisan es.<\/p>\n<figure class=\"wp-block-image size-medium\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"650\" height=\"435\" src=\"https:\/\/sotp.nyc3.digitaloceanspaces.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/landscape-650x435.jpg\" alt=\"Foto pemandangan Rocky Greenland\" class=\"wp-image-114635\" srcset=\"https:\/\/sotp.nyc3.digitaloceanspaces.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/landscape-650x435.jpg 650w, https:\/\/sotp.nyc3.digitaloceanspaces.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/landscape-1200x803.jpg 1200w, https:\/\/sotp.nyc3.digitaloceanspaces.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/landscape-925x619.jpg 925w, https:\/\/sotp.nyc3.digitaloceanspaces.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/landscape-325x218.jpg 325w, https:\/\/sotp.nyc3.digitaloceanspaces.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/landscape.jpg 1280w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - (var(--wp--style--root--padding-left) * 2)), 650px\"\/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Wilayah Greenland barat laut ini mungkin terlihat mirip dengan lanskap pada suatu waktu dalam jutaan tahun terakhir, ketika banyak atau seluruh lapisan es mencair.  (Paul Bierman\/Universitas Vermont)<\/figcaption><\/figure>\n<p><a href=\"https:\/\/dx.doi.org\/10.1073\/pnas.2407465121\">Studi tersebut dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences<\/a>mengkonfirmasikan bahwa Lapisan Es Greenland sedang mencair dan bahwa pulau tersebut mulai menghijau selama periode panas yang mungkin terjadi <a href=\"https:\/\/www.nature.com\/articles\/540202a\">jutaan tahun terakhir<\/a>.  Hal ini menambah semakin banyak bukti bahwa Greenland lebih rapuh daripada yang disadari para ilmuwan hingga saat ini.  Para peneliti mengatakan bahwa jika es yang menutupi bagian tengah pulau mencair, sebagian besar es tersebut juga akan mencair, sehingga memberikan cukup waktu untuk mencair <a href=\"https:\/\/www.science.org\/doi\/10.1126\/science.1249047\">tanah untuk terbentuk<\/a> dan sebuah <a href=\"https:\/\/www.uvm.edu\/news\/story\/uvm-geologists-greenland-research-gaining-international-attention\">ekosistem untuk berakar<\/a>.<\/p>\n<p>Pada tahun 2016, <a href=\"https:\/\/lamont.columbia.edu\/directory\/joerg-michael-schaefer\">Joerg Schaefer <\/a>dari Universitas Columbia <a href=\"https:\/\/lamont.columbia.edu\/\">Observatorium Bumi Lamont-Doherty <\/a>dan rekannya menguji batuan dari dasar inti es yang sama pada tahun 1993 (disebut GISP2) dan menerbitkan sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa lapisan es Greenland saat ini dapat <a href=\"https:\/\/www.nature.com\/articles\/nature20146\">tidak lebih dari 1,1 juta tahun<\/a>.  Mereka mengatakan ada periode bebas es yang berkepanjangan selama 2,7 juta tahun terakhir, dan jika es di situs GISP2 mencair, maka 90% dari seluruh Greenland juga akan mencair.  Ini adalah langkah pertama untuk membalikkan cerita lama bahwa Greenland adalah benteng es yang tidak bisa dipecahkan, membeku selama jutaan tahun.<\/p>\n<p>Pada tahun 2019, Bierman dan tim menyertakan ahli geokimia Lamont-Doherty <a href=\"https:\/\/lamont.columbia.edu\/directory\/sidney-rasbury-hemming\">Sidney Hemming<\/a> memeriksa inti es lainnya, yang ini <a href=\"https:\/\/www.science.org\/content\/article\/ancient-soil-secret-greenland-base-suggests-earth-could-lose-lot-ice\">diekstraksi di Camp Century<\/a>, di lepas pantai Greenland, pada tahun 1960-an.  Mereka tercengang saat mengetahuinya <a href=\"https:\/\/www.pnas.org\/doi\/full\/10.1073\/pnas.2021442118\">ranting, biji dan bagian serangga<\/a> di bagian bawah inti;  ternyata es di sana telah mencair di dalamnya<a href=\"https:\/\/www.science.org\/doi\/10.1126\/science.ade4248\"> 416.000 tahun terakhir<\/a>.<\/p>\n<p>\u201cSaat kami menemukan penemuan ini di Camp Century, kami berpikir, &#39;Hei, apa yang ada di dasar GISP2?&#39;\u201d kata Bierman.  Meskipun es dan bebatuan di intinya telah dipelajari secara ekstensif, belum ada yang meneliti apakah di dalamnya terdapat tumbuhan atau serangga.<\/p>\n<figure class=\"wp-block-image size-medium\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"650\" height=\"488\" src=\"https:\/\/sotp.nyc3.digitaloceanspaces.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/pollen-650x488.jpg\" alt=\"fotomikrograf bahan tumbuhan dan serangga\" class=\"wp-image-114634\" srcset=\"https:\/\/sotp.nyc3.digitaloceanspaces.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/pollen-650x488.jpg 650w, https:\/\/sotp.nyc3.digitaloceanspaces.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/pollen-1200x900.jpg 1200w, https:\/\/sotp.nyc3.digitaloceanspaces.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/pollen-400x300.jpg 400w, https:\/\/sotp.nyc3.digitaloceanspaces.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/pollen-925x694.jpg 925w, https:\/\/sotp.nyc3.digitaloceanspaces.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/pollen-325x244.jpg 325w, https:\/\/sotp.nyc3.digitaloceanspaces.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/pollen-800x600.jpg 800w, https:\/\/sotp.nyc3.digitaloceanspaces.com\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/pollen.jpg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 714px) calc(100vw - (var(--wp--style--root--padding-left) * 2)), 650px\"\/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Di bawah mikroskop, para ilmuwan menemukan kayu willow, bagian dari serangga, jamur dan biji poppy (tengah), dalam kondisi murni meski telah menghabiskan ratusan ribu tahun di bawah es.  (Halley Mastro\/Universitas Vermont)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Studi baru ini semakin memperkuat hipotesis \u201cGreenland yang rapuh\u201d: Seluruh ekosistem tundra terbentuk pada kedalaman es saat ini yang mencapai dua mil.<\/p>\n<p>Para peneliti menemukan bahwa di bawah mikroskop, apa yang tampak tidak lebih dari bintik mengambang di permukaan sampel inti cair, sebenarnya adalah jendela menuju lanskap ini. <a href=\"https:\/\/lamont.columbia.edu\/directory\/dorothy-marie-peteet\">Dorothy Peteet<\/a>spesialis makrofosil di Lamont-Doherty dan rekan penulis studi tersebut, bekerja dengan Mastro untuk mengidentifikasi, antara lain, spora dari tanaman primitif bernama Selaginella, sisik tunas pohon willow muda, mata majemuk serangga (mungkin lalat) dan biji poppy Arktik.<\/p>\n<p>\u201cHal yang menakjubkan adalah keindahan pelestariannya setelah berada di bawah semua es itu, dan betapa hal itu dapat memberi tahu kita seperti apa keadaan saat itu,\u201d kata Peteet.  \u201cIklim cukup hangat sehingga sebagian besar es menghilang.  Ini adalah peringatan bagi kita hari ini.\u201d<\/p>\n<p>Permukaan air laut saat ini meningkat lebih dari <a href=\"https:\/\/www.climate.gov\/news-features\/understanding-climate\/climate-change-global-sea-level\">satu inci per dekade<\/a>, dan sebagian besar berasal dari mencairnya es di Greenland.  Jika Greenland mengalami pencairan es yang hampir sempurna dalam satu abad hingga beberapa milenium mendatang, hal ini bisa jadi penyebabnya<a href=\"https:\/\/scied.ucar.edu\/learning-zone\/climate-change-impacts\/greenlands-ice-melting\"> kenaikan permukaan laut setinggi 23 kaki<\/a>.<\/p>\n<p>\u201cLihatlah Boston, New York, Miami, Mumbai atau pilih kota pantai Anda di seluruh dunia, dan tambahkan permukaan laut setinggi 20 kaki,\u201d kata <a href=\"https:\/\/wwnorton.com\/books\/9781324020677\">tukang bir<\/a>.  &#8220;Jangan membeli rumah pantai.&#8221;<\/p>\n<p><em>Diadaptasi dari siaran pers Universitas Vermont.<\/em><\/p>\n<\/div>\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kisah Greenland semakin hijau\u2014dan menakutkan. A studi baru memberikan bukti langsung pertama bahwa bagian tengah\u2014bukan hanya tepian\u2014lapisan es Greenland telah mencair pada masa lalu secara geologis, dan bahwa pulau yang kini tertutup es ini merupakan rumah bagi lanskap tundra yang hidup. Sebuah tim ilmuwan memeriksa ulang beberapa inci sedimen dari dasar inti es sedalam dua&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":322,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-321","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/321","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=321"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/321\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/322"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=321"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=321"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=321"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}