{"id":794,"date":"2025-10-17T16:49:21","date_gmt":"2025-10-17T16:49:21","guid":{"rendered":"https:\/\/cn-seo.org\/?p=794"},"modified":"2025-10-17T16:49:21","modified_gmt":"2025-10-17T16:49:21","slug":"penelitian-baru-menunjukkan-regenerasi-hutan-memberikan-manfaat-iklim-namun-tidak-akan-mengimbangi-bahan-bakar-fosil-yang-merupakan-kondisi-bumi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cn-seo.org\/?p=794","title":{"rendered":"Penelitian baru menunjukkan regenerasi hutan memberikan manfaat iklim, namun tidak akan mengimbangi bahan bakar fosil \u2013 yang merupakan kondisi bumi"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<h2 class=\"wp-block-heading has-text-align-center\">Pendeknya<\/h2>\n<ul style=\"border-color:#757575;border-style:dotted;border-width:1px;border-radius:13px;padding-top:32px;padding-right:55px;padding-bottom:32px;padding-left:55px;font-size:clamp(0.875rem, 0.875rem + ((1vw - 0.2rem) * 0.045), 0.9rem);\" class=\"wp-block-list has-border-color has-gray-color has-base-background-color has-text-color has-background has-link-color wp-elements-bc4cb3e2faf276ffd7e81b3018b9ef6f\">\n<li style=\"padding-top:0;padding-right:3px;padding-bottom:0;padding-left:3px\">Regenerasi hutan biasanya menyerap sejumlah kecil metana namun melepaskan cukup oksida nitrat untuk menghasilkan efek pemanasan bersih dari gabungan kedua gas tersebut.<\/li>\n<li style=\"padding-top:0;padding-right:3px;padding-bottom:0;padding-left:3px\">Karbon dioksida diserap oleh pohon-pohon yang tumbuh jauh melampaui efek pemanasan di sebagian besar ekosistem \u2013 bahkan setelah 100 tahun<\/li>\n<li style=\"padding-top:0;padding-right:3px;padding-bottom:0;padding-left:3px\">Ekosistem alami menghasilkan emisi gas rumah kaca yang jauh lebih rendah dibandingkan lahan pertanian, hal ini menunjukkan manfaat nyata dari regenerasi hutan bagi iklim <\/li>\n<\/ul>\n<p>Ketika lahan pertanian ditinggalkan dan dibiarkan kembali ke alam, hutan dan padang rumput secara alami akan tumbuh kembali dan menyerap karbon dioksida dari atmosfer \u2013 membantu melawan perubahan iklim. Namun, sebuah <a href=\"https:\/\/agupubs.onlinelibrary.wiley.com\/doi\/10.1029\/2024GB008446\">Sebuah studi baru di jurnal Global Biogeochemical Cycles<\/a>dipimpin oleh para ilmuwan di Universitas Columbia, mengungkap sebuah kelemahan penting dalam cerita ini: ekosistem yang beregenerasi ini juga melepaskan gas rumah kaca lainnya yang mengurangi sebagian manfaat iklimnya. Kabar baik? Bahkan berkontribusi terhadap gas-gas lain, membiarkan lahan beregenerasi secara alami tetap memberikan manfaat iklim yang penting dibandingkan dengan mempertahankannya di bidang pertanian.<\/p>\n<p>Penulis utama <a href=\"https:\/\/www.nasa.gov\/people\/savannah-s-cooley\/\">Savannah S.Coley<\/a>seorang ilmuwan penelitian di <a href=\"https:\/\/www.nasa.gov\/ames\/\">Pusat Penelitian NASA Ames<\/a> dan lulusan PhD baru-baru ini di Columbia <a href=\"https:\/\/e3b.columbia.edu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Ekologi, evolusi dan biologi lingkungan<\/a> program ini, dan tim penulisnya menganalisis data dari 115 penelitian di seluruh dunia untuk memahami bagaimana hutan dan padang rumput mempengaruhi iklim melalui tiga gas rumah kaca utama: karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida. Meskipun penelitian sebelumnya berfokus terutama pada penyerapan karbon dioksida melalui penanaman pohon, penelitian ini mengkaji gambaran yang lebih lengkap.<\/p>\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><picture class=\"sotp-avif-images\"><source srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/young_forest_regrowth_Ucayali-325x262.avif 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/young_forest_regrowth_Ucayali.avif 454w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\" type=\"image\/avif\"\/><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"454\" height=\"366\" src=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/young_forest_regrowth_Ucayali.png\" alt=\"Hutan\" class=\"wp-image-123097 sotp-avif-images\" srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/young_forest_regrowth_Ucayali.png 454w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/young_forest_regrowth_Ucayali-325x262.png 325w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\"\/><\/picture><figcaption class=\"wp-element-caption\">Pertumbuhan kembali hutan setelah 5 tahun sejak ditinggalkannya pertanian di dekat Pucallpa, Ucayali, Peru. Kredit: Jorge Vela Alvarado, Universitas Nasional Ucayali<\/figcaption><\/figure>\n<p>\u201cPenghasilan dari hutan tidak dapat menggantikan pengurangan bahan bakar fosil,\u201d kata Cooley. \u201cMeskipun regenerasi hutan membantu melawan perubahan iklim, hal ini memberikan manfaat iklim yang berbeda dibandingkan dengan pengurangan emisi dari pembakaran batu bara, minyak dan gas. Para pengambil kebijakan harus menerapkan kedua strategi tersebut secara bersamaan dibandingkan menggunakan restorasi hutan sebagai alasan untuk menunda pengurangan emisi,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Analisis ini juga menyoroti perlunya penghitungan karbon yang lebih baik, karena kebijakan iklim saat ini sering mengabaikan jumlah gas rumah kaca yang dihasilkan dari penggunaan lahan. Studi tersebut menunjukkan bahwa memasukkan metana dan dinitrogen oksida memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai dampak iklim\u2014informasi yang penting untuk membuat keputusan kebijakan yang baik, menurut para penulis.<\/p>\n<p>\u201cMembiarkan lahan pertanian kembali menjadi hutan memberikan manfaat iklim yang nyata, namun manfaat ini lebih kecil dari yang diperkirakan sebelumnya ketika kita berkontribusi terhadap seluruh gas rumah kaca. Regenerasi hutan berhasil jika menjadi bagian dari strategi iklim komprehensif yang secara agresif mengurangi emisi bahan bakar fosil sekaligus melindungi dan memulihkan ekosistem alami,\u201d kata Cooley.<\/p>\n<p>Daerah tropis dan subtropis menawarkan manfaat iklim terbesar dari regenerasi hutan seperti yang terlihat dalam penelitian ini. Pengetahuan ini dapat membantu pemerintah dan organisasi memprioritaskan di mana mereka harus menginvestasikan sumber daya yang terbatas untuk memaksimalkan dampak iklim.<\/p>\n<figure class=\"wp-block-image size-medium\"><picture class=\"sotp-avif-images\"><source srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Fig.-4-325x202.avif 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Fig.-4-650x404.avif 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Fig.-4-768x478.avif 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Fig.-4.avif 976w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\" type=\"image\/avif\"\/><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"650\" height=\"404\" src=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Fig.-4-650x404.png\" alt=\"Gambar dengan enam grafik\" class=\"wp-image-123053 sotp-avif-images\" srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Fig.-4-650x404.png 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Fig.-4-768x478.png 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Fig.-4-325x202.png 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Fig.-4.png 976w\" sizes=\"auto, (max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\"\/><\/picture><figcaption class=\"wp-element-caption\">Perbedaan antara efek gaya radiasi pada regenerasi ekosistem dengan dan tanpa mempertimbangkan fluks CH\u2084 dan N\u2082O, untuk (a) hutan jenis konifera beriklim sedang, (b) hutan berdaun lebar beriklim sedang, (c) Sabana subtropis\/tropis, (d) hutan subtropis\/tropis, (e) Sumber: Cooley dkk. (2025). Siklus biogeokimia global.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Penulis juga mencatat pentingnya bekerja sama dengan masyarakat adat, yang telah menjadi pelindung hutan paling efektif di seluruh dunia. Kebijakan yang menjamin hak masyarakat adat atas tanah dan menggabungkan sistem pengetahuan tradisional secara konsisten memberikan hasil yang lebih baik bagi iklim dan keanekaragaman hayati, lapor mereka.<\/p>\n<p>Kebijakan yang efektif memerlukan berbagai pendekatan. Pasar karbon perlu direformasi untuk mencegah \u201cgreenwashing\u201d \u2013 dimana perusahaan membeli kredit hutan untuk memungkinkan polusi berkelanjutan \u2013 sekaligus berinvestasi dalam restorasi ekosistem melalui pendanaan publik langsung, jelas Cooley.<\/p>\n<p>\u201cKrisis iklim membutuhkan setiap solusi yang tersedia, namun kita harus memiliki pandangan jernih mengenai apa yang dapat dan tidak dapat diberikan oleh setiap solusi tersebut.<\/p>\n<figure class=\"wp-block-image size-medium\"><picture class=\"sotp-avif-images\"><source srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Savannah_Cooley_ceiba_pentandra-325x386.avif 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Savannah_Cooley_ceiba_pentandra-650x772.avif 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Savannah_Cooley_ceiba_pentandra-768x912.avif 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Savannah_Cooley_ceiba_pentandra.avif 936w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\" type=\"image\/avif\"\/><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"650\" height=\"772\" src=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Savannah_Cooley_ceiba_pentandra-650x772.jpg\" alt=\"Penulis utama, Savannah Cooley, duduk di depan salah satu pohon terukur terbesar di Amazon selatan -Ceiba Pentandra yang menjulang setinggi 61 meter.\" class=\"wp-image-123105 sotp-avif-images\" srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Savannah_Cooley_ceiba_pentandra-650x772.jpg 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Savannah_Cooley_ceiba_pentandra-768x912.jpg 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Savannah_Cooley_ceiba_pentandra-325x386.jpg 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Savannah_Cooley_ceiba_pentandra.jpg 936w\" sizes=\"auto, (max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\"\/><\/picture><figcaption class=\"wp-element-caption\">Penulis utama, Savannah Cooley, duduk di depan sepetak hutan utuh di depan salah satu pohon terbesar di Amazon selatan\u2014Ceiba Pentandra yang menjulang setinggi 61 meter. Foto: Vinicius Silguero, Instituto Centro de Vida.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Penelitian ini merupakan hasil upaya kolaboratif yang melibatkan beberapa mentor Cooley (termasuk <a href=\"https:\/\/e3b.columbia.edu\/faculty\/duncan-menge\/\">Kuantitas Duncan<\/a> Dan <a href=\"https:\/\/e3b.columbia.edu\/faculty\/ruth-defries\/\">Ruth Defries<\/a>Profesor dan Wakil Dekan Sekolah Iklim Columbia). Selain para peneliti dari Columbia, tim peneliti juga menyertakan ilmuwan dari banyak institusi lain, termasuk Sian Kou-Giesbrecht dari Sekolah Sumber Daya dan Manajemen Lingkungan di Universitas Simon Fraser; Alexandra M. Huddell di Departemen Ilmu Tanaman dan Tanah di Universitas Delaware; dan Kerry Cawse-Nicholson dari Laboratorium Propulsi Jet NASA di Institut Teknologi California.<\/p>\n<p>Enam master mentega dari <a href=\"https:\/\/www.womeninscienceatcolumbia.org\/\">Wanita dalam Sains di Columbia<\/a> (WISC) Program: <\/p>\n<figure class=\"wp-block-image size-medium\"><picture class=\"sotp-avif-images\"><source srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WISC_students-325x174.avif 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WISC_students-650x349.avif 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WISC_students-768x412.avif 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WISC_students-1300x698.avif 1300w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WISC_students.avif 1502w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\" type=\"image\/avif\"\/><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"650\" height=\"349\" src=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WISC_students-650x349.png\" alt=\"Enam mahasiswa sarjana\" class=\"wp-image-123096 sotp-avif-images\" srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WISC_students-650x349.png 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WISC_students-1300x698.png 1300w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WISC_students-768x412.png 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WISC_students-325x174.png 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WISC_students.png 1502w\" sizes=\"auto, (max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\"\/><\/picture><\/figure>\n<p>\u201cBekerja dengan enam peneliti mahasiswa sarjana yang luar biasa dari program WISC adalah salah satu aspek yang paling bermanfaat dari penelitian ini.<\/p>\n<\/div>\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pendeknya Regenerasi hutan biasanya menyerap sejumlah kecil metana namun melepaskan cukup oksida nitrat untuk menghasilkan efek pemanasan bersih dari gabungan kedua gas tersebut. Karbon dioksida diserap oleh pohon-pohon yang tumbuh jauh melampaui efek pemanasan di sebagian besar ekosistem \u2013 bahkan setelah 100 tahun Ekosistem alami menghasilkan emisi gas rumah kaca yang jauh lebih rendah dibandingkan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":795,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-794","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/794","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=794"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/794\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/795"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=794"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=794"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=794"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}