{"id":814,"date":"2025-10-31T17:13:52","date_gmt":"2025-10-31T17:13:52","guid":{"rendered":"https:\/\/cn-seo.org\/?p=814"},"modified":"2025-10-31T17:13:52","modified_gmt":"2025-10-31T17:13:52","slug":"benua-di-bumi-stabil-karena-panas-seperti-tungku-menurut-penelitian-keadaan-planet-ini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cn-seo.org\/?p=814","title":{"rendered":"Benua di bumi stabil karena panas seperti tungku, menurut penelitian \u2013 keadaan planet ini"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p><em>Diadaptasi dari a <a href=\"https:\/\/www.psu.edu\/news\/research\/story\/earths-continents-stabilized-due-furnace-heat-study-reveals\">Siaran Pers<\/a> Ditulis oleh Marina Naumova untuk Penn State University.<\/em><\/p>\n<p>Selama miliaran tahun, benua-benua di bumi tetap stabil, membentuk dasar bagi pegunungan, ekosistem, dan peradaban. Namun rahasia kestabilan mereka telah diketahui oleh para ilmuwan mistik selama lebih dari satu abad. Kini, sebuah studi baru yang dilakukan oleh para peneliti di Penn State dan Columbia University memberikan bukti yang lebih jelas tentang bagaimana bentang alam menjadi dan tetap stabil\u2014dan faktor utamanya adalah panas.<\/p>\n<p>Dalam makalah yang diterbitkan 13 Oktober di Journal <a href=\"https:\/\/www.nature.com\/articles\/s41561-025-01820-2\">Geosains Alam<\/a>Peneliti-<a href=\"https:\/\/lamont.columbia.edu\/directory\/peter-b-kelemen\" data-type=\"link\" data-id=\"https:\/\/lamont.columbia.edu\/directory\/peter-b-kelemen\">Peter Klemens<\/a>ahli geologi di Lamont-Doherty Earth Observatory, yang merupakan bagian dari Columbia School of Climate, dan Andrew Smye, seorang Profesor Geosains di Penn State\u2014menunjukkan bahwa pembentukan kerak benua yang stabil\u2014jenis yang bertahan. Suhu setinggi itu, kata mereka, penting untuk mendistribusikan kembali unsur-unsur radioaktif seperti uranium dan thorium. Unsur-unsur tersebut menghasilkan panas ketika mereka membusuk, sehingga ketika mereka berpindah dari bawah ke atas kerak bumi, mereka membawa panas bersamanya dan membiarkan kerak dalam mendingin dan mengeras.<\/p>\n<figure class=\"wp-block-image size-medium\"><picture class=\"sotp-avif-images\"><source srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Kelemen-in-Oman_Kevin-Krajick-325x215.avif 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Kelemen-in-Oman_Kevin-Krajick-650x430.avif 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Kelemen-in-Oman_Kevin-Krajick-768x509.avif 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Kelemen-in-Oman_Kevin-Krajick-1300x861.avif 1300w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Kelemen-in-Oman_Kevin-Krajick.avif 1536w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\" type=\"image\/avif\"\/><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"650\" height=\"430\" src=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Kelemen-in-Oman_Kevin-Krajick-650x430.jpg\" alt=\"Peter Kelemen berdiri dalam formasi batuan di Oman\" class=\"wp-image-123416 sotp-avif-images\" srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Kelemen-in-Oman_Kevin-Krajick-650x430.jpg 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Kelemen-in-Oman_Kevin-Krajick-1300x861.jpg 1300w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Kelemen-in-Oman_Kevin-Krajick-768x509.jpg 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Kelemen-in-Oman_Kevin-Krajick-325x215.jpg 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Kelemen-in-Oman_Kevin-Krajick.jpg 1536w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\"\/><\/picture><figcaption class=\"wp-element-caption\">Penelitian penulis Peter Kelemen di Oman selama kerja lapangan. Foto: Kevin Krajick<\/figcaption><\/figure>\n<p>Implikasi dari penemuan ini lebih dari sekedar geologi, kata para peneliti, untuk membuka jalan bagi penerapan modern seperti eksplorasi mineral penting \u2013 yang penting untuk teknologi modern seperti ponsel pintar, kendaraan listrik dan sistem energi terbarukan \u2013 dan pencarian planet yang dapat dihuni.<\/p>\n<p>Proses yang menstabilkan kerak bumi juga menggerakkan unsur tanah jarang \u2013 litium, timah, dan tungsten \u2013 memberikan petunjuk baru untuk menemukannya. Proses yang sama yang mendorong stabilitas kerak benua mungkin juga terjadi di planet mirip Bumi lainnya, kata para peneliti, sehingga memberikan petunjuk baru kepada para ilmuwan planet untuk mencari kehidupan di dunia lain.<\/p>\n<p>\u201cBenua yang stabil merupakan prasyarat untuk pembiasaan, namun untuk mendapatkan stabilitas tersebut, benua tersebut perlu didinginkan,\u201d kata Smye, penulis utama makalah tersebut. \u201cUntuk mendinginkannya, mereka harus memindahkan semua unsur yang menghasilkan panas \u2013 uranium, thorium, dan kalium \u2013 ke permukaan, karena jika unsur-unsur ini tetap berada di dalam, mereka akan menghasilkan panas dan melelehkan kerak bumi.\u201d<\/p>\n<p>Kerak benua yang kita kenal muncul di Bumi sekitar 3 miliar tahun lalu, ujarnya. Sebelumnya, kerak bumi memiliki komposisi yang berbeda dibandingkan komposisi kerak modern yang kaya akan silikon. Para ilmuwan telah lama berpikir bahwa mencairnya kerak bumi merupakan unsur penting dalam resep yang menghasilkan lempeng benua stabil yang mendukung kehidupan. Namun, sebelum penelitian ini dilakukan, tidak diketahui bahwa kerak bumi harus mencapai suhu ekstrim agar menjadi stabil.<\/p>\n<p>\u201cKami pada dasarnya menemukan resep baru untuk membuat benua: suhunya harus lebih panas dari perkiraan sebelumnya, 200 derajat atau lebih panas,\u201d kata Smye. <\/p>\n<p>Pikirkan suspensi baja, katanya.<\/p>\n<p>\u201cLogam tersebut dipanaskan hingga menjadi cukup lunak sehingga dapat dibentuk secara mekanis dengan pukulan palu,\u201d kata Smye. \u201cProses ini mengubah bentuk logam pada suhu ekstrem, menata ulang struktur logam dan menghilangkan kotoran\u2014keduanya memperkuat logam, yang berpuncak pada ketangguhan material yang menentukan baja tempa.<\/p>\n<p>Untuk mencapai kesimpulan ini, tim mengambil sampel batuan dari Pegunungan Alpen di Eropa dan Amerika Serikat bagian barat daya, serta memeriksa data yang dipublikasikan dari literatur ilmiah. Mereka menganalisis data kimia batuan utuh dari ratusan sampel batuan metasedimen dan metaigneous\u2014jenis batuan yang membentuk sebagian besar kerak bawah\u2014dan kemudian mengategorikan sampel tersebut berdasarkan suhu metamorf puncaknya, saat batuan mengalami perubahan fisik dan kimia saat sebagian besar berupa padat.<\/p>\n<p>Para peneliti membedakan antara kondisi suhu tinggi dan suhu sangat tinggi. Smye dan rekan penulisnya, Kelemen, melihat konsistensi yang menarik dalam komposisi batuan yang meleleh pada suhu di atas 900 derajat C: mereka memiliki konsentrasi uranium dan thorium yang jauh lebih rendah dibandingkan batuan yang meleleh pada suhu lebih rendah. <\/p>\n<p>\u201cSangat jarang melihat sinyal yang konsisten pada batu dari berbagai tempat,\u201d kata Smye. &#8220;Ini adalah salah satu momen Eureka di mana Anda berpikir, &#39;Alam sedang mencoba memberi tahu kita sesuatu di sini.&#39;&#8221;<\/p>\n<p>Ia menjelaskan, pencairan sebagian besar jenis batuan terjadi ketika suhu mencapai di atas 650 C atau sedikit lebih dari enam kali panas air mendidih. Biasanya, semakin dalam Anda masuk ke dalam kerak bumi, suhu akan meningkat sekitar 20 derajat Celsius untuk setiap kilometer kedalaman. Karena dasar lempeng benua yang paling stabil memiliki ketebalan sekitar 30 hingga 40 kilometer, suhu 900 C tidak lazim dan memerlukan pemikiran ulang mengenai struktur suhu.<\/p>\n<p>Smye menjelaskan, pada awal sejarah Bumi, jumlah panas yang dihasilkan dari unsur radioaktif penyusun kerak bumi \u2013 uranium, thorium, dan kalium \u2013 berjumlah sekitar dua kali lipat dibandingkan saat ini. <\/p>\n<p>\u201cAda lebih banyak panas yang tersedia dalam sistem,\u201d katanya. \u201cSaat ini, kita tidak mengharapkan terbentuknya kerak yang stabil karena hanya ada sedikit panas yang tersedia untuk membentuknya.\u201d<\/p>\n<p>Dia menambahkan bahwa memahami bagaimana reaksi suhu sangat tinggi ini dapat menggerakkan unsur-unsur di kerak bumi memiliki implikasi yang lebih luas untuk memahami distribusi dan konsentrasi mineral penting, kelompok logam yang sangat dicari namun terbukti menantang dan sulit ditemukan. Jika para ilmuwan dapat memahami reaksi yang pertama kali mendistribusikan kembali unsur-unsur berharga, secara teori mereka dapat menemukan simpanan material baru saat ini.<\/p>\n<p>\u201cJika Anda mempengaruhi mineral yang mengandung uranium, thorium, dan potasium, Anda juga melepaskan banyak unsur tanah jarang,\u201d katanya.<\/p>\n<p><em>Yayasan Sains Nasional AS mendanai penelitian ini.<\/em><\/p>\n<\/div>\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diadaptasi dari a Siaran Pers Ditulis oleh Marina Naumova untuk Penn State University. Selama miliaran tahun, benua-benua di bumi tetap stabil, membentuk dasar bagi pegunungan, ekosistem, dan peradaban. Namun rahasia kestabilan mereka telah diketahui oleh para ilmuwan mistik selama lebih dari satu abad. Kini, sebuah studi baru yang dilakukan oleh para peneliti di Penn State&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":815,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-814","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/814","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=814"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/814\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/815"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=814"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=814"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=814"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}