{"id":923,"date":"2026-02-17T15:58:31","date_gmt":"2026-02-17T15:58:31","guid":{"rendered":"https:\/\/cn-seo.org\/?p=923"},"modified":"2026-02-17T15:58:31","modified_gmt":"2026-02-17T15:58:31","slug":"memanfaatkan-ai-para-ilmuwan-menemukan-peningkatan-jumlah-alga-yang-mengambang-di-samudera-global-planet-state","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cn-seo.org\/?p=923","title":{"rendered":"Memanfaatkan AI, Para Ilmuwan Menemukan Peningkatan Jumlah Alga yang Mengambang di Samudera Global &#8211; Planet State"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<ul style=\"border-color:#757575;border-style:dotted;border-width:1px;border-radius:13px;padding-top:32px;padding-right:70px;padding-bottom:32px;padding-left:70px;font-size:clamp(0.875rem, 0.875rem + ((1vw - 0.2rem) * 0.045), 0.9rem);\" class=\"wp-block-list has-border-color has-gray-color has-base-background-color has-text-color has-background has-link-color wp-elements-5f8829244a203944b87cd2a4e15930f3\">\n<li class=\"has-contrast-color has-text-color has-link-color wp-elements-30b96d377234108f637faebce2b81440\">Para ilmuwan digunakan <strong>AI untuk menganalisis citra satelit selama 20 tahun<\/strong> dan menemukan bahwa pertumbuhan alga terapung meningkat di seluruh dunia.<\/li>\n<li class=\"has-contrast-color has-text-color has-link-color wp-elements-d8226beda6731cad5d70d7b2706282db\"><strong>Pertumbuhan rumput laut (makroalga) dan mikroalga dalam jumlah besar telah berkembang pesat sejak sekitar tahun 2008\u20132010<\/strong>menunjukkan perubahan besar menuju lebih banyak alga di lautan.<\/li>\n<li class=\"has-contrast-color has-text-color has-link-color wp-elements-3d3fae3099cc85c1e6ae98031856b3f5\">Ganggang yang mengapung dapat membantu kehidupan laut di perairan terbuka, namun <strong>jika mencapai pesisir pantai dapat merusak ekosistem, pariwisata, dan perekonomian lokal<\/strong>.<\/li>\n<li class=\"has-contrast-color has-text-color has-link-color wp-elements-656cc262db5f5310b4749047f818c7d3\">Peningkatan tersebut mungkin disebabkan oleh <strong>perubahan iklim, pemanasan lautan, perubahan arus dan polusi nutrisi dari aktivitas manusia<\/strong>.<\/li>\n<\/ul>\n<figure class=\"wp-block-image size-medium\"><picture class=\"sotp-avif-images\"><source srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/1024px-Sargasses_au_large_de_Tintamare-_RNN_de_Saint_Martin-325x217.avif 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/1024px-Sargasses_au_large_de_Tintamare-_RNN_de_Saint_Martin-650x434.avif 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/1024px-Sargasses_au_large_de_Tintamare-_RNN_de_Saint_Martin-768x512.avif 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/1024px-Sargasses_au_large_de_Tintamare-_RNN_de_Saint_Martin.avif 1024w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\" type=\"image\/avif\"\/><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"650\" height=\"434\" src=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/1024px-Sargasses_au_large_de_Tintamare-_RNN_de_Saint_Martin-650x434.jpg\" alt=\"Sepetak besar Sargassum berwarna coklat mengapung di perairan laut biru cerah, dekat pulau Saint Martin\" class=\"wp-image-124936 sotp-avif-images\" srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/1024px-Sargasses_au_large_de_Tintamare-_RNN_de_Saint_Martin-650x434.jpg 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/1024px-Sargasses_au_large_de_Tintamare-_RNN_de_Saint_Martin-768x512.jpg 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/1024px-Sargasses_au_large_de_Tintamare-_RNN_de_Saint_Martin-325x217.jpg 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/1024px-Sargasses_au_large_de_Tintamare-_RNN_de_Saint_Martin.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\"\/><\/picture><figcaption class=\"wp-element-caption\">Sepetak besar Sargassum mengapung di dekat pulau Saint Martin. Kredit: <a href=\"https:\/\/commons.wikimedia.org\/wiki\/File:Sargasses_au_large_de_Tintamare-_RNN_de_Saint_Martin.jpg\">SANGAT Michel <\/a><\/figcaption><\/figure>\n<p><em>Diadaptasi dari a <a href=\"https:\/\/www.usf.edu\/marine-science\/news\/2026\/scientists-harness-ai-to-discover-a-rise-in-floating-algae-across-the-global-ocean.aspx\">siaran pers<\/a> oleh Universitas Florida Selatan<\/em><\/p>\n<p>Untuk pertama kalinya dan dengan bantuan kecerdasan buatan, para peneliti telah melakukan studi komprehensif terhadap ganggang terapung global dan menemukan bahwa bunga-bunga bermekaran di lautan. Menurut penulis, tren ini kemungkinan besar disebabkan oleh perubahan suhu, arus, dan nutrisi laut, dan dapat berdampak besar pada kehidupan laut, pariwisata, dan perekonomian pesisir.<\/p>\n<p>Dipimpin oleh para peneliti di University of South Florida (USF) dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), Columbia University dan lembaga lainnya, penelitian ini menunjukkan kekuatan kecerdasan buatan sebagai alat untuk memproses data lautan dalam jumlah besar.<\/p>\n<p>\u201cDengan pembelajaran mesin, kami mengembangkan peta yang dengan jelas menunjukkan peningkatan jumlah alga yang mengapung di lautan,\u201d kata rekan penulis <a href=\"https:\/\/lamont.columbia.edu\/directory\/joaquim-i-goes\">Joaquim Pergi<\/a>adalah seorang profesor riset di Lamont-Doherty Earth Observatory, yang merupakan bagian dari Columbia School of Climate.<\/p>\n<p>\u201cMeskipun penelitian regional telah dipublikasikan, makalah kami memberikan gambaran global pertama tentang alga terapung, termasuk lapisan makroalga dan serasah mikroalga,\u201d kata Chuanmin Hu, profesor oseanografi di Fakultas Ilmu Kelautan USF dan penulis senior. <a href=\"https:\/\/www.nature.com\/articles\/s41467-025-66822-5\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">makalah ini baru-baru ini diterbitkan di Nature Communications<\/a>. \u201cHasil kami menunjukkan bahwa lautan global kini mendukung pertumbuhan makroalga terapung.\u201d<\/p>\n<figure class=\"wp-block-image size-medium\"><picture class=\"sotp-avif-images\"><source srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Joaquim-algae-figure-1-325x192.avif 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Joaquim-algae-figure-1-650x385.avif 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Joaquim-algae-figure-1-768x455.avif 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Joaquim-algae-figure-1-1300x770.avif 1300w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Joaquim-algae-figure-1.avif 1996w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\" type=\"image\/avif\"\/><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"650\" height=\"385\" src=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Joaquim-algae-figure-1-650x385.jpg\" alt=\"Gambar yang menunjukkan peningkatan pertumbuhan pertumbuhan alga antara tahun 2003 \u2013 2012 dan 2013 \u2013 2022.\" class=\"wp-image-124965 sotp-avif-images\" srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Joaquim-algae-figure-1-650x385.jpg 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Joaquim-algae-figure-1-1300x770.jpg 1300w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Joaquim-algae-figure-1-768x455.jpg 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Joaquim-algae-figure-1-325x192.jpg 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Joaquim-algae-figure-1.jpg 1996w\" sizes=\"auto, (max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\"\/><\/picture><figcaption class=\"wp-element-caption\">Perubahan dekadel pada alga mengambang. Distribusi antara tahun 2003 \u2013 2012 (A) dan 2013 \u2013 2022 (B). Perubahan kelimpahan alga selama 20 tahun masing-masing ditunjukkan pada (C) untuk mikroalga dan (D) untuk makroalga. Tanda tahun dimulai pada bulan Januari. Keduanya meningkat secara signifikan seiring berjalannya waktu.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Hu menyebut makroalga, seperti rumput laut, sebagai pedang bermata dua. Di perairan terbuka, mereka dapat menyediakan habitat penting bagi kehidupan laut dan memberikan dampak positif pada perikanan, serta berfungsi sebagai tempat berkembang biaknya banyak spesies. Namun begitu alga mencapai perairan pesisir, pembusukan biomassa dapat menyebabkan kerugian besar bagi pariwisata, perekonomian, dan kesehatan manusia serta kehidupan laut.<\/p>\n<p>Antara tahun 2003 dan 2022, busa mikroalga dan lapisan makroalga berkembang pesat di seluruh dunia. Mikroalga di permukaan laut mengalami peningkatan yang moderat namun signifikan, yaitu sebesar satu persen per tahun. Namun, pertumbuhan makroalga meningkat sebesar 13,4 persen per tahun di Atlantik tropis dan Pasifik barat, menurut para penulis, dengan peningkatan biomassa yang paling dramatis terjadi setelah tahun 2008. Ukuran kumulatif pertumbuhan makroalga ini mencapai 43,8 juta kilometer persegi (16,9 juta mil persegi), melampaui tren historis.<\/p>\n<p>Di Samudera Hindia yang terkurung daratan di utara, sirkulasi menjadi lamban, kata Goes. &#8220;Anda dapat melihat bahwa jumlah ganggang yang mengapung telah meningkat tiga hingga tiga setengah kali lipat, dan ini sungguh mengkhawatirkan.&#8221;<\/p>\n<figure class=\"wp-block-image size-medium\"><picture class=\"sotp-avif-images\"><source srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Algae-Joaquim-Goes-325x244.avif 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Algae-Joaquim-Goes-650x488.avif 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Algae-Joaquim-Goes-768x576.avif 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Algae-Joaquim-Goes.avif 1280w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\" type=\"image\/avif\"\/><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"650\" height=\"488\" src=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Algae-Joaquim-Goes-650x488.jpg\" alt=\"Sel ganggang coklat berbentuk seperti daun teratai, diperbesar di bawah mikroskop\" class=\"wp-image-124968 sotp-avif-images\" srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Algae-Joaquim-Goes-650x488.jpg 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Algae-Joaquim-Goes-400x300.jpg 400w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Algae-Joaquim-Goes-768x576.jpg 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Algae-Joaquim-Goes-200x150.jpg 200w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Algae-Joaquim-Goes-325x244.jpg 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Algae-Joaquim-Goes-800x600.jpg 800w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Algae-Joaquim-Goes.jpg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\"\/><\/picture><figcaption class=\"wp-element-caption\">Sel Noctiluca di bawah mikroskop. Foto: Joaquim Pergi<\/figcaption><\/figure>\n<p>Titik kritis mekarnya makroalga terjadi sekitar tahun 2010. Mekar besar pertama rumput laut hijau yang dikenal dengan nama Ulva terjadi di Laut Kuning pada tahun 2008. Mekarnya rumput laut coklat Sargassum secara signifikan<em> <\/em>terjadi di Atlantik tropis pada tahun 2011. Sargassum lainnya<em> <\/em>mekar terjadi di Laut Cina Timur pada tahun 2012.<\/p>\n<p>\u201cSebelum tahun 2008, tidak ada perkembangan makroalga besar yang dilaporkan kecuali sargassum di Laut Sargasso,\u201d kata Hu. \u201cDalam skala global, kita tampaknya menyaksikan peralihan rezim dari lautan yang miskin makroalga ke lautan yang kaya makroalga.\u201d<\/p>\n<p>Untuk melakukan penelitian tersebut, para peneliti menggunakan kecerdasan buatan untuk memindai 1,2 juta citra satelit lautan, dengan fokus pada 13 zona dan lima jenis alga. Mereka melatih model pembelajaran mendalam untuk mengenali fitur-fitur yang menandakan keberadaan alga mengambang di permukaan laut. Dalam kebanyakan kasus, fitur-fitur ini muncul di banyak piksel gambar, namun biasanya jumlahnya kurang dari satu persen dari setiap piksel.<\/p>\n<p>Lin Qi, ahli kelautan di Pusat Penelitian dan Aplikasi Satelit NOAA dan penulis pertama studi tersebut, memperbarui model komputer yang sebelumnya dikembangkan oleh tim peneliti yang sama untuk menganalisis gambar lautan global selama 20 tahun. Dibutuhkan beberapa bulan dan jutaan fitur gambar untuk melatih model Qi.<\/p>\n<p>Para penulis memuji departemen Komputasi Penelitian USF atas peran pentingnya dalam penelitian ini. Fasilitas ini menyediakan akses ke infrastruktur berkinerja tinggi yang memproses beberapa kelompok gambar secara bersamaan. Meski begitu, dibutuhkan waktu beberapa bulan untuk memproses dan menganalisis 1,2 juta citra satelit.<\/p>\n<p>\u201cPekerjaan ini tidak akan mungkin terjadi tanpa fasilitas komputasi berkinerja tinggi atau kolaborasi jangka panjang antara NOAA dan USF,\u201d kata Qi.<\/p>\n<p>Studi ini mengaitkan perluasan mekarnya bunga ini dengan aktivitas manusia, seperti limpasan nutrisi ke laut, dan variabilitas iklim, seperti pemanasan laut, dan mengakui bahwa penyebabnya mungkin berbeda antar wilayah. Ke depan, Qi berkata, &#8220;kami akan mengeksplorasi lebih banyak data satelit dan mencari pemahaman yang lebih baik tentang perluasan tersebut.&#8221;<\/p>\n<\/div>\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Para ilmuwan digunakan AI untuk menganalisis citra satelit selama 20 tahun dan menemukan bahwa pertumbuhan alga terapung meningkat di seluruh dunia. Pertumbuhan rumput laut (makroalga) dan mikroalga dalam jumlah besar telah berkembang pesat sejak sekitar tahun 2008\u20132010menunjukkan perubahan besar menuju lebih banyak alga di lautan. Ganggang yang mengapung dapat membantu kehidupan laut di perairan terbuka,&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":924,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-923","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/923","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=923"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/923\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/924"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=923"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=923"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=923"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}