{"id":947,"date":"2026-03-19T22:18:58","date_gmt":"2026-03-19T22:18:58","guid":{"rendered":"https:\/\/cn-seo.org\/?p=947"},"modified":"2026-03-19T22:18:58","modified_gmt":"2026-03-19T22:18:58","slug":"penjaga-gletser-ini-adalah-wanita-negara-planet","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cn-seo.org\/?p=947","title":{"rendered":"Penjaga Gletser Ini Adalah Wanita \u2013 Negara Planet"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure data-wp-context=\"{\" imageid=\"\" data-wp-interactive=\"core\/image\" data-wp-key=\"69bc7561ea37c\" class=\"wp-block-image size-medium wp-lightbox-container\"><picture class=\"sotp-avif-images\"><source srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians1-resize-325x217.avif 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians1-resize-650x433.avif 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians1-resize-768x512.avif 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians1-resize-1300x867.avif 1300w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians1-resize-scaled.avif 2400w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\" type=\"image\/avif\"\/><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"650\" height=\"433\" data-wp-class--hide=\"state.isContentHidden\" data-wp-class--show=\"state.isContentVisible\" data-wp-init=\"callbacks.setButtonStyles\" data-wp-on--click=\"actions.showLightbox\" data-wp-on--load=\"callbacks.setButtonStyles\" data-wp-on-window--resize=\"callbacks.setButtonStyles\" src=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians1-resize-650x433.jpg\" alt=\"Seorang penggembala berpose untuk potretnya di gletser\" class=\"wp-image-125283 sotp-avif-images\" srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians1-resize-650x433.jpg 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians1-resize-1300x867.jpg 1300w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians1-resize-768x512.jpg 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians1-resize-325x217.jpg 325w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\"\/><\/picture><button class=\"lightbox-trigger\" type=\"button\" aria-haspopup=\"dialog\" aria-label=\"Enlarge\" data-wp-init=\"callbacks.initTriggerButton\" data-wp-on--click=\"actions.showLightbox\" data-wp-style--right=\"state.imageButtonRight\" data-wp-style--top=\"state.imageButtonTop\"><br \/>\n\t\t\t<svg xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"12\" height=\"12\" fill=\"none\" viewbox=\"0 0 12 12\">\n\t\t\t\t<path fill=\"#fff\" d=\"M2 0a2 2 0 0 0-2 2v2h1.5V2a.5.5 0 0 1 .5-.5h2V0H2Zm2 10.5H2a.5.5 0 0 1-.5-.5V8H0v2a2 2 0 0 0 2 2h2v-1.5ZM8 12v-1.5h2a.5.5 0 0 0 .5-.5V8H12v2a2 2 0 0 1-2 2H8Zm2-12a2 2 0 0 1 2 2v2h-1.5V2a.5.5 0 0 0-.5-.5H8V0h2Z\"\/>\n\t\t\t<\/svg><br \/>\n\t\t<\/button><figcaption class=\"wp-element-caption\">Diane, seorang penggembala sejak usia 7 tahun, mempelajari tradisi tersebut dari ibunya, namun khawatir anak-anaknya tidak dapat meneruskannya. Foto milik \u00c1ngela Ponce.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Terletak di kaki gletser tropis terbesar di dunia, komunitas pegunungan tinggi Phinaya di Andes Peru bergantung pada aliran glasial untuk penghidupan penduduknya. Air dari gletser itu, lapisan es Quelccaya, menghidupi para penggembala alpaka, keluarga dan ternak mereka. Namun dalam 40 tahun terakhir, lapisan es Quelccaya telah menghilang <a href=\"https:\/\/tc.copernicus.org\/articles\/18\/4633\/2024\/\">37 persen<\/a> dari seluruh area. A <a href=\"https:\/\/www.nature.com\/articles\/s41598-018-33698-z\">mempelajari<\/a> menunjukkan bahwa gletser akan mencapai kondisi penurunan yang tidak dapat diubah pada pertengahan tahun 2050an. <\/p>\n<p>Meskipun gletser-gletser ini mencair, perubahan iklim juga menyebabkan kekeringan di wilayah tersebut. Bagi masyarakat Phinaya, padang rumput basah yang subur sangat penting bagi alpaka mereka. Tanpa air, padang rumput akan mengering dan alpaka mati. Pada kekeringan yang melanda wilayah tersebut pada tahun 2021, ada satu keluarga yang kehilangan <a href=\"https:\/\/www.theguardian.com\/global-development\/2023\/apr\/18\/andes-community-devastated-by-climate-crisis-quelccaya-glacier-peru\">60 hewan<\/a>\u2014hampir sepertiga dari kelompok mereka. Keluarga khawatir tentang kemampuan generasi mendatang untuk terus menggembala.  <\/p>\n<p>Sebuah galeri di Upper East Side memperlihatkan dampak perubahan iklim di komunitas Phinaya, mulai dari mencairnya lapisan es Quelccaya hingga masa depan pastoralisme yang tidak pasti. Dalam potret intim, instalasi video dan suara, fotografer \u00c1ngela Ponce mengabadikan upacara Andean, hubungan keluarga, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Phinayan di tengah surutnya gletser. <a href=\"https:\/\/cultura.cervantes.es\/nuevayork\/en-US\/Guardianes-de-los-glaciares\/185090\">Dipajang<\/a> di Instituto Cervantes, Penjaga Gletser berfokus pada wanita Phinaya, seperti penjaga taman Yolanda Quispe dan keluarganya, dan hubungan mereka dengan gletser Quelccaya yang mencair. Warna cerah tekstil tradisional Andean sangat kontras dengan lanskap es dan gua yang gelap. <\/p>\n<figure data-wp-context=\"{\" imageid=\"\" data-wp-interactive=\"core\/image\" data-wp-key=\"69bc7561ea689\" class=\"wp-block-image size-medium wp-lightbox-container\"><picture class=\"sotp-avif-images\"><source srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians2-resize-325x488.avif 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians2-resize-650x975.avif 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians2-resize-768x1152.avif 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians2-resize-1300x1950.avif 1300w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians2-resize-scaled.avif 1600w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\" type=\"image\/avif\"\/><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"650\" height=\"975\" data-wp-class--hide=\"state.isContentHidden\" data-wp-class--show=\"state.isContentVisible\" data-wp-init=\"callbacks.setButtonStyles\" data-wp-on--click=\"actions.showLightbox\" data-wp-on--load=\"callbacks.setButtonStyles\" data-wp-on-window--resize=\"callbacks.setButtonStyles\" src=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians2-resize-650x975.jpg\" alt=\"Herder berpose untuk difoto\" class=\"wp-image-125284 sotp-avif-images\" srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians2-resize-650x975.jpg 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians2-resize-1300x1950.jpg 1300w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians2-resize-768x1152.jpg 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians2-resize-325x488.jpg 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians2-resize-scaled.jpg 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\"\/><\/picture><button class=\"lightbox-trigger\" type=\"button\" aria-haspopup=\"dialog\" aria-label=\"Enlarge\" data-wp-init=\"callbacks.initTriggerButton\" data-wp-on--click=\"actions.showLightbox\" data-wp-style--right=\"state.imageButtonRight\" data-wp-style--top=\"state.imageButtonTop\"><br \/>\n\t\t\t<svg xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"12\" height=\"12\" fill=\"none\" viewbox=\"0 0 12 12\">\n\t\t\t\t<path fill=\"#fff\" d=\"M2 0a2 2 0 0 0-2 2v2h1.5V2a.5.5 0 0 1 .5-.5h2V0H2Zm2 10.5H2a.5.5 0 0 1-.5-.5V8H0v2a2 2 0 0 0 2 2h2v-1.5ZM8 12v-1.5h2a.5.5 0 0 0 .5-.5V8H12v2a2 2 0 0 1-2 2H8Zm2-12a2 2 0 0 1 2 2v2h-1.5V2a.5.5 0 0 0-.5-.5H8V0h2Z\"\/>\n\t\t\t<\/svg><br \/>\n\t\t<\/button><figcaption class=\"wp-element-caption\">Salome, salah satu tetua komunitas Phinaya, berpose di kabinnya. Foto milik \u00c1ngela Ponce.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Untuk menghormati <a href=\"https:\/\/news.climate.columbia.edu\/2026\/02\/11\/celebrating-the-2026-international-day-of-women-and-girls-in-science\/\">Hari Internasional Perempuan dan Anak Perempuan dalam Sains<\/a>dengan latar belakang karya Ponce, Instituto Cervantes menjadi tuan rumah panel dengan topik pencairan gletser. Almudena Fern\u00e1ndez, kepala ekonom Program Pembangunan PBB untuk Amerika Latin dan Karibia; <a href=\"https:\/\/lamont.columbia.edu\/directory\/robin-e-bell\">Robin Bell<\/a>Marie Tharp Lamont Profesor Riset di Observatorium Bumi Lamont-Doherty, dan Allison Caine, profesor antropologi budaya di Universitas Wyoming, semuanya berbicara tentang pengalaman mereka di lapangan dan pentingnya memusatkan perempuan dalam sains. Fern\u00e1ndez menjelaskan bagaimana di wilayah yang sudah terkena dampak mencairnya gletser, kita harus \u201cberpikir bersama mengenai pembangunan manusia dan perubahan iklim.\u201d  <\/p>\n<p>\u201cAmerika Latin dan Karibia adalah kawasan yang sangat inovatif dalam hal kebijakan sosial dan lingkungan,\u201d kata Fern\u00e1ndez. \u201cMembawa ketahanan pada pusat pembangunan ini dapat memajukan pembangunan manusia dan memastikan masyarakat dapat bertahan dari guncangan sambil terus berkembang dan tumbuh di tengah ketidakpastian.\u201d  <\/p>\n<p>Dengan latar belakang fotografi Ponce, diskusi Fern\u00e1ndez tentang ketahanan menjadi semakin penting. Dalam salah satu foto, anggota keluarga berpose di samping pohon que\u00f1ua yang keriput, \u201csimbol ketahanan terhadap perubahan iklim di dataran tinggi Andes, tumbuh di ketinggian 5.000 meter (16.404 kaki) di atas permukaan laut, di mana hanya sedikit pohon yang dapat tumbuh subur,\u201d demikian keterangan galeri tersebut.  <\/p>\n<figure data-wp-context=\"{\" imageid=\"\" data-wp-interactive=\"core\/image\" data-wp-key=\"69bc7561ea95c\" class=\"wp-block-image size-medium wp-lightbox-container\"><picture class=\"sotp-avif-images\"><source srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians3-resize-325x488.avif 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians3-resize-650x975.avif 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians3-resize-768x1152.avif 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians3-resize-1300x1950.avif 1300w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians3-resize-scaled.avif 1600w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\" type=\"image\/avif\"\/><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"650\" height=\"975\" data-wp-class--hide=\"state.isContentHidden\" data-wp-class--show=\"state.isContentVisible\" data-wp-init=\"callbacks.setButtonStyles\" data-wp-on--click=\"actions.showLightbox\" data-wp-on--load=\"callbacks.setButtonStyles\" data-wp-on-window--resize=\"callbacks.setButtonStyles\" src=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians3-resize-650x975.jpg\" alt=\"Anggota keluarga di sebelah pohon que\u00f1ua\" class=\"wp-image-125292 sotp-avif-images\" srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians3-resize-650x975.jpg 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians3-resize-1300x1950.jpg 1300w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians3-resize-768x1152.jpg 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians3-resize-325x488.jpg 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians3-resize-scaled.jpg 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\"\/><\/picture><button class=\"lightbox-trigger\" type=\"button\" aria-haspopup=\"dialog\" aria-label=\"Enlarge\" data-wp-init=\"callbacks.initTriggerButton\" data-wp-on--click=\"actions.showLightbox\" data-wp-style--right=\"state.imageButtonRight\" data-wp-style--top=\"state.imageButtonTop\"><br \/>\n\t\t\t<svg xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"12\" height=\"12\" fill=\"none\" viewbox=\"0 0 12 12\">\n\t\t\t\t<path fill=\"#fff\" d=\"M2 0a2 2 0 0 0-2 2v2h1.5V2a.5.5 0 0 1 .5-.5h2V0H2Zm2 10.5H2a.5.5 0 0 1-.5-.5V8H0v2a2 2 0 0 0 2 2h2v-1.5ZM8 12v-1.5h2a.5.5 0 0 0 .5-.5V8H12v2a2 2 0 0 1-2 2H8Zm2-12a2 2 0 0 1 2 2v2h-1.5V2a.5.5 0 0 0-.5-.5H8V0h2Z\"\/>\n\t\t\t<\/svg><br \/>\n\t\t<\/button><figcaption class=\"wp-element-caption\">Anggota keluarga di sebelah pohon que\u00f1ua. Kredit: Angela Ponce.  <\/figcaption><\/figure>\n<p>Bell menyoroti seberapa besar kemajuan yang dicapai perempuan dalam komunitas ilmiah. &#8220;Ini Marie [Tharp] sedang membuat peta dari data yang tidak boleh dikumpulkannya,&#8221; katanya sambil menunjuk ke foto ahli geologi terkenal itu. &#8220;Dia mengubah, secara mendasar, cara kita berpikir tentang planet kita.&#8221; Pada tahun 1977, Marie Tharp dan rekannya Bruce Heezen menerbitkan peta pertama dasar Samudera Atlantik, memperlihatkan pegunungan dan ngarai yang luas yang sebelumnya dianggap sebagai dataran datar. Tharp kemudian <a href=\"https:\/\/news.climate.columbia.edu\/2024\/07\/30\/happy-birthday-marie-tharp\/\">dikenali<\/a> oleh Perpustakaan Kongres sebagai salah satu dari empat kartografer terhebat abad ke-20. <\/p>\n<p>\u201cTapi ketika saya tiba [Columbia]Tharp tidak dihormati,\u201d tambah Bell. \u201cDia tidak memiliki jabatan profesor. Ketika saya tiba, perempuan tidak diterima.\u201d Tharp mulai bekerja di Laboratorium Geologi Lamont Columbia\u2014sekarang Observatorium Bumi Lamont-Doherty\u2014pada tahun 1948, 35 tahun sebelum perempuan diterima di Columbia College. (Observatorium Bumi Lamont-Doherty adalah bagian dari Sekolah Iklim Columbia.)<\/p>\n<p>\u201cTetapi institusi bisa berubah,\u201d lanjut Bell. \u201cSekarang, di Columbia, perempuan memimpin, perempuan menjalankan program, dan kami menghormati Marie.\u201d <\/p>\n<p>Perempuan juga memimpin di banyak wilayah dataran tinggi Peru, kata Caine. Dia bercerita tentang pengalamannya melakukan penelitian etnografi dan tinggal di Chillca, sebuah komunitas kecil 20 km sebelah barat Phinaya. \u201cPerempuan dan anak perempuan di Chillca adalah penjaga pengetahuan sesungguhnya di kawasan ini. Mereka adalah penggembala utama, yang memiliki pengetahuan yang sangat kaya, terperinci, dan terspesialisasi tentang hewan, rumput, dan saluran air.\u201d  <\/p>\n<figure data-wp-context=\"{\" imageid=\"\" data-wp-interactive=\"core\/image\" data-wp-key=\"69bc7561eac4c\" class=\"wp-block-image size-medium wp-lightbox-container\"><picture class=\"sotp-avif-images\"><source srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians4-resize-325x217.avif 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians4-resize-650x433.avif 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians4-resize-768x512.avif 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians4-resize-1300x867.avif 1300w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians4-resize-scaled.avif 2400w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\" type=\"image\/avif\"\/><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"650\" height=\"433\" data-wp-class--hide=\"state.isContentHidden\" data-wp-class--show=\"state.isContentVisible\" data-wp-init=\"callbacks.setButtonStyles\" data-wp-on--click=\"actions.showLightbox\" data-wp-on--load=\"callbacks.setButtonStyles\" data-wp-on-window--resize=\"callbacks.setButtonStyles\" src=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians4-resize-650x433.jpg\" alt=\"Para penggembala berdiri dikelilingi es\" class=\"wp-image-125295 sotp-avif-images\" srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians4-resize-650x433.jpg 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians4-resize-1300x867.jpg 1300w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians4-resize-768x512.jpg 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians4-resize-325x217.jpg 325w\" sizes=\"auto, (max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\"\/><\/picture><button class=\"lightbox-trigger\" type=\"button\" aria-haspopup=\"dialog\" aria-label=\"Enlarge\" data-wp-init=\"callbacks.initTriggerButton\" data-wp-on--click=\"actions.showLightbox\" data-wp-style--right=\"state.imageButtonRight\" data-wp-style--top=\"state.imageButtonTop\"><br \/>\n\t\t\t<svg xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"12\" height=\"12\" fill=\"none\" viewbox=\"0 0 12 12\">\n\t\t\t\t<path fill=\"#fff\" d=\"M2 0a2 2 0 0 0-2 2v2h1.5V2a.5.5 0 0 1 .5-.5h2V0H2Zm2 10.5H2a.5.5 0 0 1-.5-.5V8H0v2a2 2 0 0 0 2 2h2v-1.5ZM8 12v-1.5h2a.5.5 0 0 0 .5-.5V8H12v2a2 2 0 0 1-2 2H8Zm2-12a2 2 0 0 1 2 2v2h-1.5V2a.5.5 0 0 0-.5-.5H8V0h2Z\"\/>\n\t\t\t<\/svg><br \/>\n\t\t<\/button><figcaption class=\"wp-element-caption\">Apus adalah <strong>gunung suci<\/strong> wilayah Andes. Dalam pandangan dunia Andes, hubungan alam-manusia mirip dengan hubungan antara orang tua dan anak. Penduduk desa tidak hanya memandang pegunungan bersalju sebagai elemen alam, tetapi juga sebagai kerabat lanjut usia yang patut mendapat perhatian dan rasa hormat. Foto milik \u00c1ngela Ponce.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Kebijaksanaan ilmiah perempuan Chillca \u201csayangnya kurang terwakili dalam literatur yang dihasilkan wilayah ini, dan dalam upaya pembangunan untuk mempersiapkan komunitas ini menghadapi masa depan yang semakin menyusutnya gletser,\u201d kata Caine.  <\/p>\n<p>Dihadapkan pada iklim masa depan yang tidak pasti, para panelis menganjurkan pengakuan yang lebih besar terhadap pengetahuan tradisional, khususnya perempuan. Dari pengetahuan luas tentang para penggembala Phinaya hingga glasiologi Tharp yang inovatif di abad ke-20, panel tersebut memuji perempuan di garis depan sains dan menganjurkan lebih banyak \u201csuara di meja,\u201d seperti yang dikatakan Bell.  <\/p>\n<p>&#8220;Kita perlu memperdalam keahlian ilmiah kita. Kita perlu memperluas apa yang kita pertimbangkan. Kita perlu mendatangkan pengamat dan ilmuwan kain non-klasik. Kita perlu membuka pintu bagi perempuan dan anak perempuan karena semakin banyak orang yang melakukan sains, semakin baik pengetahuan kita untuk masa depan planet kita,&#8221; tambah Bell.   <\/p>\n<figure data-wp-context=\"{\" imageid=\"\" data-wp-interactive=\"core\/image\" data-wp-key=\"69bc7561eaf1d\" class=\"wp-block-image size-medium wp-lightbox-container\"><picture class=\"sotp-avif-images\"><source srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians5-resize-325x488.avif 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians5-resize-650x975.avif 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians5-resize-768x1152.avif 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians5-resize-1300x1950.avif 1300w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians5-resize-scaled.avif 1600w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\" type=\"image\/avif\"\/><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"650\" height=\"975\" data-wp-class--hide=\"state.isContentHidden\" data-wp-class--show=\"state.isContentVisible\" data-wp-init=\"callbacks.setButtonStyles\" data-wp-on--click=\"actions.showLightbox\" data-wp-on--load=\"callbacks.setButtonStyles\" data-wp-on-window--resize=\"callbacks.setButtonStyles\" src=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians5-resize-650x975.jpg\" alt=\"Ibu dan anak perempuannya menyatukan kepala sebagai simbol hubungan\" class=\"wp-image-125296 sotp-avif-images\" srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians5-resize-650x975.jpg 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians5-resize-1300x1950.jpg 1300w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians5-resize-768x1152.jpg 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians5-resize-325x488.jpg 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Guardians5-resize-scaled.jpg 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\"\/><\/picture><button class=\"lightbox-trigger\" type=\"button\" aria-haspopup=\"dialog\" aria-label=\"Enlarge\" data-wp-init=\"callbacks.initTriggerButton\" data-wp-on--click=\"actions.showLightbox\" data-wp-style--right=\"state.imageButtonRight\" data-wp-style--top=\"state.imageButtonTop\"><br \/>\n\t\t\t<svg xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"12\" height=\"12\" fill=\"none\" viewbox=\"0 0 12 12\">\n\t\t\t\t<path fill=\"#fff\" d=\"M2 0a2 2 0 0 0-2 2v2h1.5V2a.5.5 0 0 1 .5-.5h2V0H2Zm2 10.5H2a.5.5 0 0 1-.5-.5V8H0v2a2 2 0 0 0 2 2h2v-1.5ZM8 12v-1.5h2a.5.5 0 0 0 .5-.5V8H12v2a2 2 0 0 1-2 2H8Zm2-12a2 2 0 0 1 2 2v2h-1.5V2a.5.5 0 0 0-.5-.5H8V0h2Z\"\/>\n\t\t\t<\/svg><br \/>\n\t\t<\/button><figcaption class=\"wp-element-caption\">Ibu dan anak perempuannya menyatukan kepala sebagai simbol hubungan. Dalam pandangan dunia Andean, rambut panjang melambangkan perluasan pemikiran. Foto milik \u00c1ngela Ponce.<\/figcaption><\/figure>\n<p><em>Lihat foto-foto ini dan lainnya di \u00c1ngela Ponce&#39;s<\/em><a href=\"https:\/\/cultura.cervantes.es\/nuevayork\/en-US\/Guardianes-de-los-glaciares\/185090\"><em>  pameran<\/em><\/a><em>&#8220;Penjaga Gletser&#8221; dipamerkan hingga 1 April di Instituto Cervantes di New York City. Tiket masuknya gratis.<\/em><\/p>\n<\/div>\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diane, seorang penggembala sejak usia 7 tahun, mempelajari tradisi tersebut dari ibunya, namun khawatir anak-anaknya tidak dapat meneruskannya. Foto milik \u00c1ngela Ponce. Terletak di kaki gletser tropis terbesar di dunia, komunitas pegunungan tinggi Phinaya di Andes Peru bergantung pada aliran glasial untuk penghidupan penduduknya. Air dari gletser itu, lapisan es Quelccaya, menghidupi para penggembala alpaka,&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":948,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-947","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/947","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=947"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/947\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/948"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=947"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=947"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=947"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}