{"id":967,"date":"2026-04-08T20:25:12","date_gmt":"2026-04-08T20:25:12","guid":{"rendered":"https:\/\/cn-seo.org\/?p=967"},"modified":"2026-04-08T20:25:12","modified_gmt":"2026-04-08T20:25:12","slug":"penurunan-tanah-mendorong-risiko-banjir-yang-tersembunyi-di-salah-satu-wilayah-dengan-penduduk-terbanyak-di-dunia-negara-bagian-planet-bumi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cn-seo.org\/?p=967","title":{"rendered":"Penurunan Tanah Mendorong Risiko Banjir yang Tersembunyi di Salah Satu Wilayah dengan Penduduk Terbanyak di Dunia \u2013 Negara Bagian Planet Bumi"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"wp-block-image size-medium\"><picture class=\"sotp-avif-images\"><source srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/iStock-504700332-325x217.avif 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/iStock-504700332-650x433.avif 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/iStock-504700332-768x512.avif 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/iStock-504700332-1300x867.avif 1300w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/iStock-504700332.avif 2121w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\" type=\"image\/avif\"\/><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"650\" height=\"433\" src=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/iStock-504700332-650x433.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-125644 sotp-avif-images\" srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/iStock-504700332-650x433.jpg 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/iStock-504700332-1300x867.jpg 1300w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/iStock-504700332-768x512.jpg 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/iStock-504700332-325x217.jpg 325w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\"\/><\/picture><figcaption class=\"wp-element-caption\">Banjir di kawasan Kemayoran Jakarta. Foto: ronnisugiharto, iStock.<\/figcaption><\/figure>\n<h2 class=\"wp-block-heading has-text-align-center\">Highlight<\/h2>\n<ul style=\"padding-right:var(--wp--preset--spacing--50);padding-left:var(--wp--preset--spacing--50)\" class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Penurunan tanah, atau penurunan permukaan tanah,<\/strong> memperburuk risiko banjir di sepanjang Pulau Jawa di Indonesia.<\/li>\n<li><strong>Penurunan permukaan tanah mungkin saja terjadi<\/strong> hingga 85% kenaikan permukaan laut relatif pada tahun 2050 di beberapa tempat.<\/li>\n<li><strong>Lebih dari 75% garis pantai pulau<\/strong> diproyeksikan akan didominasi oleh risiko banjir yang didorong oleh penurunan selama 25 tahun ke depan.<\/li>\n<\/ul>\n<p>A <a href=\"https:\/\/www.science.org\/doi\/10.1126\/sciadv.aec0172\">mempelajari<\/a> diterbitkan hari ini di Science Advances menemukan bahwa penurunan permukaan tanah, atau penurunan permukaan tanah, melampaui kenaikan permukaan air laut yang disebabkan oleh lautan di hampir seluruh garis pantai utara Pulau Jawa, Indonesia. Pulau ini adalah rumah bagi lebih dari 150 juta orang\u2014sekitar 2% dari populasi global. Penelitian baru ini menawarkan penilaian spasial yang paling komprehensif mengenai bahaya ini hingga saat ini dan mengungkapkan masalah yang jauh lebih besar daripada masalah yang ada <a href=\"https:\/\/jakartaglobe.id\/news\/jakarta-is-sinking-sea-levels-now-higher-than-the-citys-coastline\">wastafel yang dipublikasikan dengan baik<\/a> dari Jakarta.<\/p>\n<p>Tim studi termasuk peneliti dari <a href=\"https:\/\/lamont.columbia.edu\">Observatorium Bumi Lamont-Doherty<\/a> (LDEO)\u2014yang merupakan bagian dari Columbia Climate School, Virginia Tech dan University of California, Irvine, bersama dengan kolaborator internasional.<\/p>\n<p>Dengan menggunakan data radar satelit dan teknik pembelajaran mesin yang canggih, tim peneliti memetakan penurunan tanah di seluruh Pulau Jawa dengan detail yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga mengungkap penurunan permukaan tanah yang luas dan berkembang pesat di wilayah perkotaan dan pedesaan.<\/p>\n<p>Analisis mereka menemukan bahwa sebagian besar Pulau Jawa tenggelam dengan kecepatan hingga 1,5 meter per dekade, melebihi laju kenaikan permukaan laut global yang terjadi di Jakarta, Cirebon, Semarang, Surabaya, dan kota-kota pesisir besar lainnya di Indonesia.<\/p>\n<p>\u201cStudi ini mengungkap perubahan mendasar dalam cara kita memahami risiko pesisir,\u201d kata penulis utama Leonard Ohenhen. \u201cDi banyak wilayah di Pulau Jawa, daratannya tenggelam begitu cepat sehingga melebihi dampak kenaikan permukaan air laut yang disebabkan oleh lautan. Ini berarti bahayanya tidak hanya datang dari lautan, namun juga berasal dari bawah tanah.\u201d<br \/>Ohenhen, yang sekarang menjadi asisten profesor di UC Irvine, melakukan penelitian tersebut saat dia menjadi mahasiswa pascadoktoral di LDEO.<\/p>\n<figure class=\"wp-block-image alignwide size-medium\"><picture class=\"sotp-avif-images\"><source srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Screenshot-2026-04-07-at-3.31.45-PM-325x211.avif 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Screenshot-2026-04-07-at-3.31.45-PM-650x421.avif 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Screenshot-2026-04-07-at-3.31.45-PM-768x498.avif 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Screenshot-2026-04-07-at-3.31.45-PM.avif 1214w\" sizes=\"(max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\" type=\"image\/avif\"\/><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"650\" height=\"421\" src=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Screenshot-2026-04-07-at-3.31.45-PM-650x421.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-125636 sotp-avif-images\" srcset=\"https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Screenshot-2026-04-07-at-3.31.45-PM-650x421.png 650w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Screenshot-2026-04-07-at-3.31.45-PM-768x498.png 768w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Screenshot-2026-04-07-at-3.31.45-PM-325x211.png 325w, https:\/\/media.news.climate.columbia.edu\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Screenshot-2026-04-07-at-3.31.45-PM.png 1214w\" sizes=\"auto, (max-width: 714px) calc(100vw - calc(clamp(1.5rem, 5vw, 2rem) * 2)), 650px\"\/><\/picture><figcaption class=\"wp-element-caption\">Pengukuran radar satelit mengungkapkan penurunan permukaan tanah yang luas dan berkembang pesat di Pulau Jawa (2017\u20132023). Warna merah menunjukkan wilayah yang paling cepat mengalami penurunan, dengan laju mencapai lebih dari satu meter per dekade di wilayah Jakarta, Pekalongan, Semarang, dan Demak. Panel bawah menunjukkan laju penurunan permukaan tanah di sepanjang garis pantai utara, tempat jutaan orang tinggal. Kotak berwarna hangat menunjukkan area yang tenggelam lebih cepat. Di banyak lokasi tersebut, penurunan permukaan tanah jauh lebih cepat dibandingkan dengan kenaikan permukaan air laut.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Dengan mengintegrasikan pengamatan satelit dengan proyeksi permukaan laut, para peneliti menemukan bahwa penurunan permukaan tanah dapat menyebabkan hingga 85% kenaikan permukaan laut relatif di sebagian besar pantai Jawa pada tahun 2050, dan lebih dari 75% garis pantai diproyeksikan akan didominasi oleh risiko banjir yang disebabkan oleh penurunan permukaan tanah dalam 25 tahun ke depan. Masyarakat pesisir sudah mengalami tingkat kenaikan permukaan air laut jauh di atas rata-rata global.<\/p>\n<p>Meskipun perubahan iklim global meningkatkan permukaan air laut, studi ini menekankan bahwa aktivitas manusia di tingkat lokal, khususnya pengambilan air tanah, menyebabkan penurunan permukaan tanah dan meningkatkan risiko banjir. <\/p>\n<p>Tim tersebut mengidentifikasi penyebab utama penurunan permukaan tanah, termasuk ekstraksi air tanah secara intensif di wilayah perkotaan, penggunaan air untuk pertanian, ekstraksi industri, dan pemadatan sedimen alami di wilayah delta. <\/p>\n<p>\u201cSalah satu temuan paling penting dari penelitian ini adalah kami mampu mengidentifikasi faktor-faktor utama yang mendorong penurunan permukaan tanah, dan sejauh mana hal tersebut berkontribusi terhadap kenaikan permukaan air laut di wilayah padat penduduk yang menghadapi berbagai bahaya,\u201d kata rekan penulis. <a href=\"https:\/\/lamont.columbia.edu\/directory\/folarin-kolawole\">Folarin Kolawole<\/a>ahli geologi struktural di LDEO dan asisten profesor di Departemen Ilmu Bumi dan Lingkungan Columbia. \u201cPenilaian resolusi tinggi seperti ini diperlukan di wilayah pesisir di seluruh dunia.\u201d<\/p>\n<figure class=\"wp-block-pullquote\">\n<blockquote>\n<p>\u201cHal yang paling penting bagi masyarakat pesisir bukan hanya permukaan laut global, namun bagaimana daratan dan lautan berubah di wilayah tersebut.\u201d<\/p>\n<p><cite>James Davis, Observatorium Bumi Lamont-Doherty<\/cite><\/p><\/blockquote>\n<\/figure>\n<p>Untuk mengatasi kurangnya pemantauan berbasis darat di banyak wilayah, para peneliti mengembangkan pendekatan baru dengan menggunakan data satelit untuk membuat \u201cpengukur pasang surut virtual\u201d setiap lima kilometer di sepanjang garis pantai.<\/p>\n<p>Hal ini memungkinkan mereka untuk merekonstruksi perubahan permukaan laut di masa lalu dan masa depan dengan detail spasial yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga mengungkap pola risiko yang sangat bervariasi dan berubah dengan cepat.<\/p>\n<p>\u201cStudi ini menunjukkan betapa pentingnya mengukur pergerakan tanah vertikal di dekat pantai dan memasukkannya ke dalam penilaian risiko permukaan laut yang serius,\u201d kata rekan penulis James Davis, ahli geodesi di LDEO. \u201cYang paling penting bagi masyarakat pesisir bukan hanya permukaan laut global, tapi bagaimana daratan dan lautan berubah di wilayah tersebut.\u201d<\/p>\n<p>Meski fokus di Pulau Jawa, temuan ini mempunyai implikasi global.<\/p>\n<p>\u201cBanyak wilayah pesisir di seluruh dunia menghadapi dinamika serupa, namun seringkali tidak terlihat,\u201d kata Ohenhen. \u201cApa yang kita lihat di Pulau Jawa kemungkinan merupakan gambaran dari apa yang bisa terjadi di tempat lain jika penurunan muka tanah tidak dipantau dan dikelola dengan baik.\u201d<\/p>\n<p>Para peneliti menekankan bahwa adaptasi iklim yang efektif harus lebih dari sekadar mengelola kenaikan permukaan laut, namun juga mencakup pemantauan aktif dan mitigasi penurunan permukaan tanah.<\/p>\n<p>\u201cAmblesan tanah adalah salah satu komponen risiko pesisir yang paling bisa ditindaklanjuti,\u201d kata ahli geosains Virginia Tech, Manoochehr Shirzaei, salah satu penulis studi tersebut. \u201cTidak seperti kenaikan permukaan air laut global, yang memerlukan solusi global, penurunan muka tanah seringkali dapat dikelola secara lokal melalui kebijakan, infrastruktur, dan penggunaan sumber daya yang berkelanjutan.\u201d<\/p>\n<p>Temuan ini menggarisbawahi pentingnya melacak penurunan permukaan tanah bersamaan dengan kenaikan permukaan air laut di wilayah pesisir yang terpapar.<\/p>\n<p><em>Diadaptasi dari <a href=\"https:\/\/news.vt.edu\/articles\/2026\/04\/science-sinking-java-island.html\">siaran pers<\/a> ditulis oleh Kelly Izlar untuk oleh Virginia Tech.<\/em><\/p>\n<\/div>\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banjir di kawasan Kemayoran Jakarta. Foto: ronnisugiharto, iStock. Highlight Penurunan tanah, atau penurunan permukaan tanah, memperburuk risiko banjir di sepanjang Pulau Jawa di Indonesia. Penurunan permukaan tanah mungkin saja terjadi hingga 85% kenaikan permukaan laut relatif pada tahun 2050 di beberapa tempat. Lebih dari 75% garis pantai pulau diproyeksikan akan didominasi oleh risiko banjir yang&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":968,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-967","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/967","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=967"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/967\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/968"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=967"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=967"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cn-seo.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=967"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}