
Highlight
- Lingkaran pohon dari hutan ek pesisir di New York dan Rhode Island mencatat dampak badai besar di Timur Laut.
- Menganalisis anatomi kayu bersama dengan lebar cincin membantu peneliti mengidentifikasi sinyal badai dengan lebih jelas daripada lebar cincin saja.
- Studi menunjukkan lingkaran pohon dapat membantu memperluas sejarah badai Timur Laut melampaui catatan tertulis.
- Temuan ini juga menunjukkan bahwa permukaan air laut meningkat dapat meningkatkan tekanan terhadap hutan pesisir yang rentan.
Para peneliti dari Universitas Columbia dan Universitas William Paterson telah menemukan bahwa hutan pesisir di Timur Laut AS berisi catatan terjadinya badai besar dan menunjukkan bahwa pepohonan pulih dari badai dalam waktu dua tahun. Temuan ini juga menunjukkan bahwa pepohonan di pesisir pantai mungkin sudah menunjukkan tanda-tanda stres akibat naiknya permukaan air laut.
Para peneliti mempublikasikan hasilnya dalam jurnal Perubahan Global dan Planet.
Studi ini berfokus pada tiga hutan pantai di Timur Laut: dua di New York (Montauk dan Shelter Island) dan satu di Newport, Rhode Island. Tim peneliti mengumpulkan inti pohon ek di ketiga lokasi dan menganalisisnya dengan dua cara. Pertama, mereka mengukur lebar gelang—alat tradisional untuk mengukurnya dendrokronologi—yang menunjukkan berapa banyak pohon yang tumbuh setiap tahun. Mereka juga memeriksa struktur mikroskopis kayu, termasuk ukuran dan susunan pembuluh yang mengalirkan air melalui pohon, untuk lebih memahami bagaimana fungsi pohon selama periode stres. Kedua pendekatan ini memungkinkan tim untuk menguji apakah badai dan naiknya air laut telah meninggalkan dampak yang dapat dideteksi pada pola pertumbuhan pohon.
“Kami melakukan hal ini dengan mengajukan pertanyaan yang cukup mendasar: akankah badai muncul di lingkaran pohon? Dan memang demikian,” kata penulis utama. Nicole Davis, seorang profesor di Universitas William Paterson dan seorang ilmuwan peneliti senior di Lamont-Doherty Earth Observatory, yang merupakan bagian dari Columbia Climate School. “Hal ini memang menarik, namun yang paling menonjol adalah ketahanan pepohonan dan seberapa cepat pertumbuhannya bangkit kembali setelah badai.”
Catatan dari pusat badai sudah ada sejak abad ke-18, sehingga berpotensi memberi para peneliti pandangan jangka panjang mengenai dampak badai dibandingkan pengamatan modern saja.
Para peneliti menemukan bahwa meskipun pertumbuhan pohon menurun secara signifikan pada tahun setelah terjadinya badai besar, hutan umumnya pulih dalam waktu sekitar dua tahun. “Informasi ini dapat memberikan informasi kepada pihak kehutanan atau pengambil keputusan lainnya mengenai inisiatif konservasi dan restorasi hutan,” kata Davi.
Namun pemulihan akibat badai mungkin hanya sebagian dari cerita. Di Montauk, pohon-pohon tumbuh lebih sedikit pada tahun-tahun ketika permukaan air di pesisir lebih tinggi dari rata-rata jangka panjang. Meskipun permukaan air laut terus meningkat dalam jangka panjang, permukaan air pesisir dapat meningkat secara dramatis dalam beberapa tahun karena perubahan kondisi laut, pola cuaca, dan pasang surut air laut. Tim menduga bahwa permukaan air yang lebih tinggi atau paparan garam mungkin menyebabkan berkurangnya hutan-hutan tersebut, namun hal ini merupakan topik yang Davi dan rekan-rekannya harap dapat diselidiki lebih lanjut seiring dengan berlanjutnya penelitian.
“Situs seperti Montauk langka dan penting karena di satu tempat terdapat sejarah panjang perubahan lingkungan,” kata rekan penulis. Mukund Raoseorang profesor riset di Lamont. “Fakta bahwa pohon-pohon ini mencatat badai besar dan kemungkinan dampak naiknya permukaan air pantai menjadikannya berharga untuk memahami bagaimana ekosistem pesisir merespons tekanan lingkungan.”

Davi dan rekan-rekannya akhirnya berharap untuk menggunakan lingkaran pohon untuk merekonstruksi sejarah badai di Timur Laut yang terjadi sebelum tahun 1850-an, ketika pencatatan tertulis dimulai. Tim tersebut baru-baru ini menerima dana untuk memperluas pekerjaan mereka ke lebih banyak lokasi dan lebih banyak spesies pohon. Mereka juga akan memasang perangkat yang disebut dendrometer, yang melacak perubahan halus pada pertumbuhan pohon dari waktu ke waktu. Tahapan penelitian berikutnya ini akan membantu para peneliti mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana hutan pesisir merespons banjir, paparan garam, dan tekanan lainnya seiring dengan perubahan kondisi di sepanjang pantai.
Tim peneliti tersebut antara lain Ed Cook dari Lamont, Caroline Leland dan Laia Andreu-Hayles (juga dari Pusat Penelitian Ekologi dan Kehutanan Terapan di Spanyol), Arturo Pacheco-Solana dari Universitas Padua dan Neil Pederson dari Harvard Forestry.
Penelitian ini disponsori oleh New Jersey Sea Grant Consortium dengan dana dari Office of Sea Grants NOAA, Departemen Perdagangan AS.







Tinggalkan Balasan